Syarat dan Ucapan Ijab Qabul Dalam Pernikahan

Ijab Qabul Dalam Pernikahan

Salah satu rukun nikah yang sudah dibahas pada rukun dan syarat pernikahan sebelumnya adalah adanya ijab qabul. Ijab adalah ucapan dari orang tua atau wali mempelai wanita (calon istri) untuk menikahkan putrinya kepada sang calon mempelai pria (calon suami) atau penyerahan dari wali (pihak pertama) , sedangkan qabul adalah jawaban dari jawaban dari calon suami atas ijab yang diucapkan oleh wali calon istri, atau penerimaan dari pihak calon suami (pihak kedua) , seperti ucapan wali nikah “saya nikahkan kamu …..” kemudian dijawab oleh calon suami “saya terima nikahnya……” . Maka pernyataan pertama dari wali disebut “ijab.” Dan pernyatan kedua yang dinyatakan oleh pihak yang mengadakan aqad berikutnya (calon suami) untuk menyatakan rasa ridha dan setujunya disebut “Qabul.”
Syarat Ijab Qabul
1. Satu Majelis dan ketersambungan antara ijab dan qabul
Ijab Qabul harus dilaksanakan dalam satu majelis. Yaitu ketika mengucapkan ijab qabul harus dilakukan di dalam sebuah majelis yang sama. Dimana keduanya sama-sama hadir secara utuh di tempat yang sama, dan adanya kesinambungan antara ijab & qabul tanpa ada jeda dengan perkataan lain yang bisa membuat keduanya tidak terkait. Sedangkan syarat bahwa antara ijab dan qabul itu harus bersambung tanpa jeda waktu sedikitpun merupakan pendapat syafi’i dalam mazhabnya. Namun yang lainnya tidak mengharuskan keduanya harus langsung bersambut. Bila antara ijab & qabul ada jeda waktu namun tidak ada perkataan lain, seperti untuk mengambil nafas atau hal lain yang tidak membuat berbeda maksud & maknanya, maka akadnya tetap syah. Sebagaimana yang dituliskan di kitab Al-Muhgni.
2. Adanya persamaan antara ijab dan qabul (tidak boleh bertentangan)
Harus ada persamaan antara ijab dan qabul baik secara jelas mauapun kandungan maknanya. Misalnya bunyi lafaz ijab yang diucapkan oleh wali adalah,”Aku nikahkan kamu dengan anakku Fatimah dengan mahar 2 juta”, lalu lafaz qabulnya diucapkan oleh calon suami,”Saya terima nikahnya dengan mahar 1 juta”. Maka antara keduanya tidak sama, maka ijab qabul ini tidak syah. Namun bila jumlah mahar yang disebutkan dalam qabul lebih tinggi dari yang diucapkan dalam ijab, maka hal itu syah.
3. Ijab dan Qabul harus memakai lafaz yang jelas dan terus terang.
Dalam mengucapkan ijab qabul tidak boleh menggunakan kalimat sindiran, karena kalimat sindiran tidak akan dipahami maksudnya dan membutuhkan niat, sementara saksi yang hadir dalam pernikahan itu tidak akan memahami apa yang diniatkan seseorang.Adapun ucapan yang sharih (terang dan jelas ) yang disepakati oleh ulama adalah nakaha, atau zawwaja (tazwij), dan juga disepakati bolehnya dengan menggunakan pecahan kedua kata tersebut,seperti zawwajtuka atau ankahtuka. Namun ulama berbeda pendapat dengan memakai kata kata selain yang diatas, seperti “ saya serahkan, saya jual, saya milikkan, atau saya sedekahkan,” dan lainnya.
Menurut golongan Hanafi, Tsauri, Abu Ubaid dan Abu Daud membolehkan, karena tersirat dalam surat al Ahzab ayat 50. Hal ini sama seperti ucapan cerai yang dibolehkan dengan menggunakan kata kiasan.Namun menurut imam Syafi,i, imam Ahmad , Sai’id bin Musayyabdan Atha’ berpendapat tidak sah ijab dengan menggunakan kata kata selain kata tazwij dan nikah, atau pecahan dari kata tersebut.
Ibnu Taimiyah menyatakan:Ijab qabul boleh dilakukan dengan bahasa, kata kata atau perbuatan apa saja yang oleh masyarakat umum dianggab sudah menyatakan terjadinya nikah, sama dengan semua hukum aqad lainnya secara umum.
Begitu juga ahli fikih sepakat boleh menggunakan ijab qabul dengan selain bahasa Arab.
4. Antara calon suami dan wali sama-sama saling dengar & mengerti apa yang diucapkan. Bila masing-masing tidak paham apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya, maka akad itu tidak syah.
5. Dengan menggunakan Fi’il Madhi
Para fuqaha mengatakan bahwa lafaz ijab & qabul haruslah dalam bentuk kata kerja masa lampau “ fiil madhi” (past) seperti zawwajtuka atau ankahtuka. Fi’il madhi adalah kata kerja dengan keterangan waktu yang telah lampau. sedangkan bila menggunakan fi’il mudhari’, maka secara hukum masih belum tentu sebuah akad yang syah.Sebab fi’il mudhari’ masih mengandung makna yang akan datang & juga sekarang. Sehingga masih ada ihtimal (kemungkinan) bahwa akad itu sudah terjadi atau belum lagi terjadi
6. Kedua pihak pelaku ijab qabul harus sama-sama sudah tamyiz. Maka bila calon suami masih belum tamyiz, akad itu tidak syah, atau bila wali belum tamyiz juga tidak syah. Apalagi bila kedua-duanya belum tamyiz, makalebih tidak syah lagi.
7. Ijab qabul tidak boleh menggunakan ungkapan yang membatasi masa berlansungnya pernikahan, karena pernikahan itu ditujukan untuk selamanya.
Dalam Kompilasi Hukum Islam Ijab qabul diatur dalam pasal 27, 28 dan 29.
Menurut Kompilasi Hukum Islam :
pasal 27 :
Ijab dan Qabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan tidak berselang waktu.
pasal 28 :
Akad nikah dilaksanakan sendiri secara pribadi oleh wali nikah yang bersangkutan. Wali nikah dapat mewakilkan pada orang lain.
Pasal 29 :
(1) Yang berhak mengucapkan Qabul ialah calon mempelai pria secara pribadi.
(2) Dalam hal-hal tertentu ucapan Qabul nikah dapat dilakukan pada pria lain dengan ketentuan calon mempelai pria memberi kuasa yang tegas secara tertulis bahwa penerimaan wakil atas akad nikah itu adalah untuk mempelai pria.
(3) Dalam hal calon mempelai wanita atau wali keberatan calon mempelai pria diwakili, maka akad nikah tidak boleh dilansungkan.
Beberapa hal permasalahan dalam ijab qabul:
• Ijab qabulnya orang bisu.
Ijab qabul orang bisu sah dengan menggunakan isyarat, jika isyaratnya dapat dimengerti, sebagaimana halnya dengan aqad jual beli, dimana akad jual belinya sahnya sah dengan menggunakan isyarat, karena isyarat itu mempunyai makna yang dapat dimengerti. Tetapi kalau salah satu pihak tidak memahami isyaratnya, ijab qabulnya tidak sah, sebab yang melakukan ijab qabul hanyalah antara dua orang yang bersangkutan itu saja.
• Ijab qabul orang yang gaib (tidak hadir).
Jika salah seorang dari pasangan pengantin tidak ada,tetapi tetap akan melanjutkan aqad nikahnya, maka ia wajib mengirim wakilnya atau menulis surat kepada pihak lain untuk meminta diwakilkan kepada orang ain untuk diaqadnikahkan , dan pihak yang lain ini jika bersedia menerima, hendaklah menghadirkan para saksi dan membacakan isi suratnya kepada mereka, atau menunjukkan wakilnya kepada mereka dan mempersaksikan kepada mereka di dalam majlis, bahwa aqad nikahnya telah diterimanya. Dengan demikian qabulnya dianggap masih dalam satu majelis
Demikian semoga bermanfaat
Ditulis oleh : Ilda Hayati, Lc.,MA (Dosen Syariah STAIN Curup)

Comments are closed.