Pengertian Nikah, Hukum dan Dasar Hukum Pernikahan, serta Hikmah disyariatkannya Menikah

oleh: Ilda Hayati, Lc., MA   (Dosen Syariah STAIN Curup, Bengkulu)

A. Pengertian Nikah


1. Pengertian nikah secara bahasa
Kata nikah berasal dari bahasa Arab yaitu نِكَاحًا yang merupakan masdar dari “ نَكَحَ -– يَنْكِحُ – نِكَاحًا” yang berarti alwath’u yaitu hubungan kelamin, juga berarti azzawaj yaitu nikah,kawin [1] namun para ahli fikih mendefinisikan nikah secara bahasa dgn (ضم) “bergabung “, (وطء) “hubungan kelamin” dan juga berarti (عقد) “akad” [2]
Adanya dua kemungkinan arti ini yaitu hubungan kelamin dan akad, karena kata nikah yang terdapat dalam Al-Qur’an memang mengandung dua arti tersebut, dimana dalam al-Qur’an kata “Nikah” kadang digunakan untuk menyebut akad nikah, tetapi kadang juga dipakai untuk menyebut suatu hubungan seksual, seperti :
a) contoh pengertian nikah dengan makna hubungan kelamin, seperti yang terdapat dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 230
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَه
“ Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga “menikah” dengan suami yang lain.
Arti nikah pada ayat di atas adalah al-wath-u atau al-jima’u (melakukan hubungan seksual), bukan akad nikah. Nikah dalam arti melakukan hubungan seksual pada ayat tersebut dikuatkan oleh hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ – يَعْنِى ثَلاَثًا – فَتَزَوَّجَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ فَدَخَلَ بِهَا ثُمَّ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يُوَاقِعَهَا أَتَحِلُّ لِزَوْجِهَا الأَوَّلِ قَالَتْ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لاَ تَحِلُّ لِلأَوَّلِ حَتَّى تَذُوقَ عُسَيْلَةَ الآخَرِ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَهَا
“ Dari Aisyah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai seorang laki-laki yang mencerai isterinya tiga kali, kemudian wanita tersebut menikah dengan laki-laki yang lain dan bertemu muka dengannya kemudian ia mencerainya sebelum mencampuri, maka apakah ia halal bagi suaminya yang pertama? Aisyah berkata; tidak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ia tidak halal bagi suaminya yang pertama hingga ia merasakan manisnya (hubungan seksua) dengan suaminya yang lain, dan ia (sang suami) juga merasakan manisnya (hubungan seksual) dengannya.” [3]
b) Contoh pengertian nikah dengan makna akad, terdapat dalam surat an-Nisa’ ayat 22:
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ
“Dan janganlah kamu lakukan akad nikah dengan wanita-wanita yang telah melakukan akad nikah dengan ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau”
Ayat ini mengandung pengertian bahwa perempuan yang sudah dinikahi oleh ayah, maka haram hukumnya bagi anaknya untuk menikahi perempuan tersebut dengan semata ayah telah melansungkan akad nikah dengannya.[4]
Para ulama merinci makna lafal nikah sebagaimana yang dikutib oleh guru besar universitas al-Azhar mesir Abdul Aziz Muhammad azam serta Abdul wahhab sayyed hawwas dalam buku fikih munakahat bahwa empat macam makna nikah tersebut
Nikah diartikan “akad” dalam arti yang sebenarnya, dan diartikan “percampuran suami istri” dalam arti kiasan.
Sebaliknya nikah diartikan “percampuran suami istri” dalam arti yang sebenarnya, dan diartikan “akad” dalam arti kiasan.
Nikah lafal “musytarak” (mempunyai 2 makna yang sama)
Nikah diartikan “adh-dhamm” (bergabung secara mutlak) dan “ikhtilath” (percampuran). [5]
Dari keterangan diatas jelas bahwa makna nikah diucapkan ada dua makna yaitu akad pernikahan dan hubungan intim antara suami dan istri., dan makna nikah secara istilah atau syara’ tidak keluar dari dua makna tersebut.
2 Pengertian nikah secara istilah
Ulama berbeda dalam mendefinisikan nikah secara istilah sbagai mana yang dikutip oleh Abdurrahman al-Jazairi dalam kitab Fiqh ala al-Madzahib al-Arba ’ah,
• menurut mazhab Syafi’i nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan watha’ dengan lafadz nikah atau tazwij atau yang semakna dengan keduanya.
• Golongan Malikiyah berpendapat bahwa nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum semata-mata untuk membolehkan watha’, bersenang-senang dan menikmati apa yang ada pada diri seorang wanita yang boleh menikah dengannya.
• Golongan Hanabilah mendefinisikan nikah sebagai akad yang menggunakan lafadz nikah atau tazwij agar diperbolehkan mengambil manfaat dan bersenang-senang dengan wanita.
• Golongan Hanafiyah mendefinisikan nikah sebagai akad yang berfaidah untuk memiliki, bersenang-senang dengan sengaja. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa para ulama zaman dahulu memandang nikah hanya dari satu sisi saja, yaitu kebolehan hukum antara seorang laki-laki dengan seorang wanita untuk berhubungan yang semula dilarang. [6]
Syaikh al-Imam al-Alim al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i menyebut bahwa nikah adalah suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat [7]
Dengan berbagai pendapat di atas, maka dalam terminologi fiqih munakahat nikah berarti akad yang membolehkan berhubungan seksual dengan lafadz nikah atau semisalnya . [8]

3 Pengertian Pernikahan menurut Undang-Undang dan Kompilasi Hukum Islam
• Undang-undang No. 1 Tahun 1974, Pasal 1 tentang perkawinan menyatakan : “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.”[9]
• Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam mendefinisikan: “Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu suatu akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidza untuk memenuhi perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.” [10]
B. Dasar Hukum dan Hukum Menikah
I. Dasar hukum pernikahan
a) Al-Quran
Terdapat banyak ayat dalam al-Quran yang mengatur masalah pernikahan, seperti penegasan bahwa Allah menciptakanmakhluk hidup berpasang pasangan,baik manusia,binatang atapun tumbuh-tumbuhan untuk kelansungan jenis masing masing, diatara ayat ayat al-Quran tentang pernikahan adalah :
1) QS az-Zariyat ayat 49
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”
2) QS az-Hujurat ayat 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Masih banyak ayat lain yang menjeaskan hal tersebut, seperti terdapat dalam QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36, QS Yaasin ayat 36 dan lainnya.
b) Hadis
Terdapat banyak hadis Rasulullah yang menganjurkan pernikahan, bahkan ada diataranya yang berupa peringatan dari Rasulullah bahwa orang yang tidak menikah bukanlah umat beliau, diantara hadis-hadis tersebut adalah :
1) Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ta’ala :
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَمَلِهِ فِي السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“ Dari Anas bahwa sekelompok orang dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai amalan beliau yang tersembunyi. Maka sebagian dari mereka pun berkata, “Saya tidak akan menikah.” Kemudian sebagian lagi berkata, “Aku tidak akan makan daging.” Dan sebagian lain lagi berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasurku.” Mendengar ucapan-ucapan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri shalat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka siapa yang saja yang membenci sunnahku, berarti bukan dari golonganku.”[HR.Bukhori Muslim]
2) Hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata :
قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ
, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ; فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“ Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan (secara fisik dan harta), hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat meredam (syahwat) .”[HR.Bukhori Muslim]
Rasulullah shalallahu a’alaihi wa sallam dalam hadist di atas memerintahkan para pemuda untuk menikah dengan sabdanya “falyatazawaj” (segeralah dia menikah), kalimat tersebut mengandung perintah. Di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan bahwa : “al ashlu fi al amr lil wujub “ (Pada dasarnya perintah itu mengandung arti kewajiban).
c) Ijmak
Ulama sepakat bahwa pernikahan merupakan sunatullah yang dianjurkan dalam agama Islam, berdasarkan banyaknya ayat dan hadis Rasulullah yang menjelaskan hal tersebut.
II. Hukum pernikahan
Hukum menikah dibagi menjadi dua, pertama: hukum asal pernikahan, kedua : hukum menikah dilihat dari kondisi pelakunya.
I. Hukum Asal Pernikahan
Hukum asal pernikahan adalah sunnah,[11] dan merupakan salah satu sunnah para nabi sebagaimana terdapat dalam firman Allah dalam surat ar-Ra’ad ayat 38 :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.”(QS. ar-Ra’ad ayat 38)
Dalam hadisTirmizi dari Ayyub, Rasulullah saw bersabda : “ Empat hal yang merupakan sunnah para nabi yaitu: celak, wangi wangian, siwak dan menikah.”
Terkadang pasangan atau pernikahan disebut sebagai satu karunia yang baik, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 7
Namun ada beberapa pendapat ulama lainnya tentang hukum menikah seperti yg di kutip oleh Ahmadzain dalam sebuah blog bahwa hukum asal pernikahan adalah wajib[12] . Ini merupakan pendapat sebagian ulama, berkata Syekh al-Utsaimin : “Banyak dari ulama mengatakan bahwa seseorang yang mampu (secara fisik dan ekonomi) untuk menikah, maka wajib baginya untuk menikah, karena pada dasarnya perintah itu menunjukkan kewajiban, dan di dalam pernikahan tersebut terdapat maslahat yang agung.“
Dalil-dalil pendapat ini adalah sebagai berikut :
Pertama : Hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata :
قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan (secara fisik dan harta), hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat meredam (syahwat) .”
Rasulullah shalallahu a’alaihi wa sallam dalam hadist di atas memerintahkan para pemuda untuk menikah dengan sabdanya “falyatazawaj” (segeralah dia menikah), kalimat tersebut mengandung perintah. Di dalam kaidah ushul fiqh disebutkan bahwa : “al ashlu fi al amr lil wujub “ (Pada dasarnya perintah itu mengandung arti kewajiban).
Kedua : bahwa menikah itu merupakan perilaku para utusan Allah subhanahu wa ta’ala , sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)”
Ketiga : hadist Anas bin Malik radhiyallahu ta’ala :
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَمَلِهِ فِي السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“ Dari Anas bahwa sekelompok orang dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai amalan beliau yang tersembunyi. Maka sebagian dari mereka pun berkata, “Saya tidak akan menikah.” Kemudian sebagian lagi berkata, “Aku tidak akan makan daging.” Dan sebagian lain lagi berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasurku.” Mendengar ucapan-ucapan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu, padahal aku sendiri shalat dan juga tidur, berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka siapa yang saja yang membenci sunnahku, berarti bukan dari golonganku.”
Keempat : karena orang yang tidak menikah itu merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang Nashara, sedang menyerupai mereka di dalam masalah ibadat adalah haram. Berkata Syekh al Utsaimin :
“ …dan karena dengan meninggalkan nikah padahal ia mampu, merupakan bentuk penyerupaan dengan orang-orang Nashara yang meninggalkan nikah sebagai bentuk peribadatan mereka. Sedangkan menyerupai ibadat non muslim hukumnya adalah haram.” Karena menyerupai mereka haram, maka wajib meninggalkan penyerupaan tersebut dengan cara menikah, sehingga menikah hukumnya wajib.
Pendapat lain sebagai mana dijelaskan Amir syarifuddin bahwa hukum asal pernikahan adalah mubah, namun dengan melihat dari segi sifatnya sebagai sunnah Allah dan sunnh Rasul, maka hukum asal pernikahan bukanlah semata mubah[13].hal ini merupakan pendapat syafiiyah.
Namun penulis lebih setuju, pendapat yang mengatakan hukum asal pernikahan sunnah lebih tepat, melihat banyaknya ayat dan hadis Rasulullah yang berupa anjuran serta menyebutkan kebaikan yang akan diperoleh dengan pernikahan tersebut, untuk itu dipahami bahwa hukum asalnya adalah sunnah, adapun yang mengatakan wajib, kondisi tersebut dikaitkan dengan kondisi tertentu, seperti kondisi seseorang bisa terjerumus kedalam kemaksiatan jika dia tidak menikah, sementara dari kondisi ekonomi dan tanggung jawab dia mampu, maka hukum pernikahan dalam kondisi ini akan berbeda dan disesuakan menurut kondisi orang tersebut, bukan lagi merupakan hukum asal.
I. Hukum Menikah Menurut Kondisi Pelakunya
Adapun hukum menikah jika dilihat dari kondisi pelaku (orang yang melakukannya) adalah wajib, sunah, haram, makruh dan muba, ini merupakan pendapat ulama ulama mazhab sebagaimana dikutip oleh abdul azis dan abdul wahab dalam buku fikih munakahah, sementara ulama hanafiah menambahkan satu hukum lagi yaitu fardu, sehingga ada perbedaan antara wajib dengan fardu. [14]
Pertama : Penikahan hukumnya wajib, yaitu bagi orang yang mempunyai keinginan yang kuat untuk menikah sedangkan dia mempunyai kemampuan ekonomi yang cukup, dia telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam berumah tangga, serta adanya kekhawatiran apabila tidak menikah ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina.
Begitu juga seorang mahasiswa atau pelajar, jika dia merasa tidak bisa konsentrasi belajar, karena memikirkan pernikahan, atau dia terlihat sedang belajar atau membaca buku, tapi dia hanya pura-pura, pada hakekatnya dia sedang melamun tentang menikah, dan selalu memandang foto-foto perempuan yang diselipkan di dalam bukunya, maka hukum menikah bagi mereka yang seperti ini adalah wajib jika memang dia mampu untuk itu secara materi dan fisik, serta bisa bertanggung jawab, atau menurut perkiraannya pernikahannya bisa menambah semangat dan konsentrasinya dalam belajar.
Menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib, apabila bagi seseorang tertentu penjagaan diri itu hanya akan terjamin dengan jalan menikah, maka menikah bagi dia hukumnya wajib sesuai kaidah fiqhiah: “sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban, hukumnya adalah wajib” atau dengan kata lain “apabila suatu kewajiban tidak bisa dilakasanakan karena dengan adanya suatu hal, maka hal tersebut juga wajib.” [15]. Penerapan kaidah ini dalam pernikahan adalah apabila seseorang hanya dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan jalan dengan jalan pernikahan, maka pernikahan itu wajib hukumnya bagi orang tersebut.
Kedua : Pernikahan hukumnya sunah, yaitu bagi orang yang mempunyai keinginan yang kuat untuk menikah, dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban dalam rumah tangga, tetapi dengan tidak menikah dia juga tidak khawatir akan berbuat zina.
Dalam kondisi seperti ini hukumnya sunah, hukum sunah diperoleh dari anjuran yang banyak terdapat dalam ayat ayat al-Quran dan hadis hadis Rasulullah sebagaimana sudah disebutkan diatas yang menganjurkan untuk menikah.
Ketiga : Pernikahan hukumnya haram, yaitu bagi yang belum berkeinginan untuk menikah serta tidak mampu bertanggung jawab dan akan menelantarkan istri dan anaknya.
Qurthuby berkata : “Apabila seorang laki-laki (calon suami) sadar tidak mampu memenuhi kewajiban nafkah terhadap istrinya, dan membayar maharnya atau memenuhi hak-hak istrinya, maka ia tidak halal menikahi seseorang, sebelum ia berterus terang menjelaskan keadaannya kepada calon istrinya atau ia bersabar sampai datang saatnya ia mampu memenuhi hak-hak istrinya.[16] Allah berfirman :“…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri…”
Keempat : : Pernikahan hukumnya makruh, yaitu bagi yang belum mempunyai keinginan untuk menikah serta tidak mampu bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya. Nikahjuga makruh hukumnya bagi orang yang punya harta, tetapi dari segi fisiknya mengalami cacat (lemah syahwat). Dikatakan makruh, karena dia tidak membutuhkan perempuan untuk dinikahi karena ketiadaan keinginannya untuk menikah tersebut, sementara dia harus mencari harta untuk menafkahi istri yang sebenarnya tidak dibutuhkan olehnya.
Adapun seseorang yang mempunyai harta tetapi tidak ada keinginan untuk menikah (lemah syahwat), para ulama berbeda pendapat sebagai dikutip oleh ahmadzain dalam blog [18] :
Pendapat Pertama : Dia tidak dimakruhkan menikah tetapi lebih baik baginya untuk konsentrasi dalam ibadah. Ini adalah pendapat Imam Syafi’I dan mayoritas ulama Syafi’iyah.
Pendapat Kedua : Menikah baginya lebih baik. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan sebagian dari ulama Syafi’iyah serta sebagian dari ulama Malikiyah. Kenapa? karena barangkali istrinya bisa membantunya dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya, seperti memasak, menyediakan makanan dan minuman, menyuci dan menyetrika bajunya, menemaninya ngobrol, berdiskusi dan lain-lainnya. Menikah sendiri tidak mesti melulu melakukan hubungan seks saja, tetapi ada hal-hal lain yang didapat sepasang suami selama menikah, seperti kebersamaan, kerjasama, keakraban, menjalin hubungan keluarga, ketenangan dan ketentraman.
Kelima : Pernikahan hukumnya mubah, yaitu bagi laki-laki yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkannya untuk segera menikah atau karena alasan-alasan yang mengharamkan untuk kawin, maka hukumnya mubah.
C. Tujuan dan Hikmah Pernikahan
1. Tujuan Pernikahan
Nikah disyariatkan oleh Allah bukan tanpa tujuan. Nikah mempunyai beberapa tujuan dan hikmah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia sebagai perwujudan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Ajaran ini tentu akan berimplikasi pada kemaslahatan bagi kehidupan manusia sepanjang masa dan di manapun tempatnya (mashalih li al-nas f i kulli al- zaman wa al-makan).
Diantara tujuan pernikahan tersebut adalah :
a) Untuk mendapatkan keturunan yang sah untuk melanjutkan generasi yang akan datang, hal ini terlihat dari isyarat Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 1
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…”

Keinginan melanjutkan keturunan merupakan naluri semua mkahluk hidup, tidak hanya terbatas pada kehidupan umat manusia saja. Untuk hal tersebut Allah menciptakan nafsu bagi manusia, hingga mendorongnya untuk mencari pasangan hidupnya untuk menyalurkan nafsu tersebut. Allah juga menganugerahi nafsu tersebut untuk makhluk lain seperti binatang, namun agar manusia lebih terhormat dalam menyalurkan nafsunya tersebut, untuk mendapatkan keturunan secara sah, hanyalah melalui pernikahan.
b) Untuk mendapatkan ketenangan dalam sebuah keluarga dan rasa kasih sayang, hal ini juga sudah diisyaratkan Allah sebagaimana terdapat dalam suratar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].
Penyaluran nafsu syahwat untuk menjamin kelansungan hidup bisa saja tanpa melalui pernikahan, namun untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup berumahtangga hanya melalui pernikahan.

c) Tujuan pernikahan yang sejati dalam Islam adalah pembentukan akhlak manusia, dan memanusiakan manusia, sehingga adanya rasa tanggung jawab dari setiap suami istri dalam menjalankan fungsi masing masing dalam sebuah rumah tangga.
Adapun tujuan pernikahan menurut Kompilasi Hukum Islam sebagaimana disebutkan dalam pasal 3, walau disana disebutkan perkawinan adalah : “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah”.[19]

Walaupun ada tujuan lainnya yang dipahami oleh sebagian orang, seperti mengharapkan harta benda, mengharapkan kebangsawanan, karena ingin melihat kecantikan seseorang dan lainnya.

Namun hal tersebut mendapat peringatan dari Rasulullah saw yang artinya “ siapa yang menikahi wanita karena hartanya, niscaya Allah akan melenyapkan harta dan kecantikannya. Barang siapa yang menikahi karena agamanya, niscaya Allah akan memberi karunia kepadanya dengan harta dan kecantikannya” (al-hadis)
Dalam hadis lain disebutkan “ Siapa yang menikahi seorang perempuan karena kekayaannya, niscaya tidak akan bertambah kekayaannya, bahkan sebaliknya kemiskinan yang akan didapatinya”(al-hadis)

Dalam menentukan pasangan hanya melihat kekayaan seseorang saja dilarang dan dapat peringatan dari Rasulullah, apalagi kalau menjadikan hal tersebut semata sebagai tujuan pernikahan tentulah akan lebih terlarang.

2. Hikmah Pernikahan

Adapun hikmah nikah sangatlah banyak. Hikmah-hikmah tersebut sangat besar arti dan manfaatnya bagi kehidupan manusia yang diciptakan Allah secara fitrah terdiri dari laki-laki dan perempuan. Hanya dengan nikahlah maka keduanya dapat disatukan dalam bahtera rumahtangga.

Manusia juga makhluk sosial sehingga dengan mahligai rumahtangga kehidupan bermasyarakat akan terbangun dengan rapi dan teratur secara damai.
Diantara hikmah dalam pernikahan adalah :
a) Untuk menghalangi mata dari melihat kepada hal hal yang dilarang oleh syara’, dan menjaga kehormatan diri dari terjatuh pada perbuatan zina, hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:
قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ
, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ; فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mempunyai kemampuan (secara fisik dan harta), hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat meredam (syahwat) .” [21]
b) Untuk menjaga, memelihara dan memuliakan wanita yang bersifat lemah. Wanita dalam sejarah digambarkan sebagai pemuas hawa nafsu kaum laki laki. Pernikahan merupakan satu jalan agar wanita mendapatkan perlindungan dari suaminya, keperluan hidupnya ditanggung oleh suami, serta kehormatan dia juga akan dilindungi, hingga tak semubarang laki laki yang akan mengganggu dan melecehkan dia. Dengan pernikahan wanita tidak ditelantarkan begitu saja disaat dia hamil, melahirkan anak tanpa seorang ayah yang akan bertanggung jawab terhadap anak tersebut, hingga wanita terset menanggung malu juga beban hidup dia dan anaknya.

Dengan berbagai tujuan dan hikmah di atas, jelaslah, nikah disyariatkan oleh Allah membawa banyak faidah yang tiada terhingga. Karena hanya dengan menikahlah manusia dapat terhindar dari kerusakan nafsu kebinatangan dan dapat membangun budaya dan peradaban yang maju penuh dengan cinta dan kasih sayang.

1. Ahmad warson Munawir, kamus Arab Indonesia, hal 1560
2. Fathul Qarib h 22, lihat juga Abdurrahman Al Jaziri, Al- Fiqh ‘ala Mazaahib Al- Arba’ah, (Beirut : Daar Al- Fikr, t.th), Juz 4, h.
3. HR Bukhari dan Muslim
4. Cek buku tafsir qurtubi surat annisa 22
5. Abdul Aziz Muhammad azam dan Abdul wahhab sayyed hawwas, terjemah oleh Abdul majid khon, hal 38
6. Abdurrahman al-Jazairi, Fiqh ala al-Madzahib al-A rba ’ah, Juz IV, hlm. 3 /
Abdurrahman Al Jaziri, Al- Fiqh ‘ala Mazaahib Al- Arba’ah, (Beirut : Daar Al- Fikr, t.th), Juz 4, h. 29 ? cek lg
7. fathul qarib hal 22
8. Abi Zakaria, Fathul Wahab bi Syarhi Minhaj i al-Thulab, Semarang: Nur Asia, tt. hlm. 30
9. .
10. Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam ?
11. fathul qarib 23
12. ahmadzain.com?
13. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,(Jakarta : Prenada Media.2006). cet ke 3, Hal : 43
14. Abdul Aziz Muhammad azam dan Abdul wahhab sayyed hawwas, terjemah oleh Abdul majid khon, hal 44
15. A. Djazuli ,qawaid fiqhiah hal 32
16. Abdurrahman Al Jaziri, Al- Fiqh ‘ala Mazaahib Al- Arba’ah, (Beirut : Daar Al- Fikr, t.th), Juz 4, h. 29 ? cek lg
17. (QS. Al-Baqarah : 195). (Al-qur’an dan terjemahan, Departemen Agama RI, 2002 : 36)
18. Ahmad zain
19. KHI pasal 3 cek halaman…?
20. HR. Bukhari dan Muslim
21. HR. Bukhari dan Muslim

Comments are closed.