Syarat Calon Suami dan Istri Menurut Islam

Persyaratan Calon Suami dan Istri Menurut Islam.

Sebagaimana sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya, dimana dalam sebuah pernikahan dalam Islam haruslah terpenuhi syarat dan rukun pernikahan tersebut, disini akan dijelaskan masing masing dari syarat rukun pertama dan kedua yaitu syarat calon suami dan istri.

Pertama: syarat calon suami dan istri harus beragama Islam.

Dalam surat al-Baqarah ayat 221 Allah swt menjelaskan larangan pernikahan

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(QS. al-Baqarah,2:221)
Dalam ayat ini Allah swt menegaskan larangan bagi seorang wali untuk menikahkan putrinya dengan orang musyrik { وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوا ۚ} “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman” . Ini bersifat umum yang tidak ada pengecualian di dalamnya. Kemudian Allah menyebutkan hikmah dalam hukum haramnya seorang mukmin atau wanita mukmin menikah dengan laki laki selain agama Islam dalam firmanNya:
{ أُوْلئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ } “Mereka mengajak ke neraka”, yaitu, dalam perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan, dan kondisi-kondisi mereka. Maka bergaul dengan mereka adalah merupakan suatu yang bahaya, dan bahayanya bukanlah bahaya duniawi, akan tetapi bahaya kesengsaraan yang abadi.
Demikian juga halnya calon istri, haruslah beragama Islam, sebagaimana sudah ditegaskan Allah swt dalam surat al-baqarah ayat 221 diatas:
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS al-Baqarah, 2: 221)
Dalam ayat ini terdapat larangan bagi seorang laki laki muslim untuk menikahi wanita musyrik, walaupun mereka itu cantik dan rupawan, kaya dan sebagainya. Budak perempuan yang mukmin, lebih baik untuk dinikahi daripada menikahi orang musyrik tersebut. Kemudian ada pengkhususan dalam surat al-Maidah tentang bolehnya menikahi wanita ahli Kitab, sebagaimana Allah berfirman,
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلُُّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَن يَكْفُرْ بِاْلإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ {5}

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerina hukum-hukum Islam). Maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Maidah : 5)
Terdapat pengkhususan bagi laki laki mukmin dalam ayat ini, yaitu kebolehan menikahi wanita ahlul kitab, yaitu orang nashrani dan yahudi yang masih berpegang teguh dengan kitabullah yang diwahyukan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad saw. Ini mengandung pengertian bahwa tidaklah boleh hukumnya menikah dengan orang kristen(nashrani ataupun yahudi) yang ada saat ini, karena mereka tidak lagi berpegang pada kitabullah, melainkan kitab yang sudah mengalami penambahan, pengurangan dan perombakan oleh kaumnya.
Sama halnya dengan menikahkan wanita muslim dengan laki laki musyrik, pernikahan seorang laki laki muslim dengan menikahi wanita musyrik hukumnya juga tidak sah, berdasarkan larangan dalam surat al-Baqarah ayat 221 diatas.

Kedua: syarat calon suami harus laki laki dan syarat calon istri harus perempuan.

Dalam persyaratan ini menghendaki dan mengharuskan calon suami itu laki laki, artinya tidak sah pernikahan seorang khuntsa musykil ( banci yang bermasalah), yaitu seseorang yang masih belum diketahui secara pasti bahwa dia benar benar laki laki, hal ini disebabkan beberapa hal, misal dia mempunyai alat kelamin ganda, atau terlahir tanpa alat kelamin, hingga dokter membuatkan alat kelamin buat orang tersebut guna keperluan buang hajat, selama orang ini belum jelas kecendrungan salah satu diantara keduanya, maka akad nikahnya tidak sah, sampai benar benar diketahui bahwa dia laki laki dari kecendrungan hidupnya, misal dengan tumbuhnya tanda tanda fisik yang lain, seperti muncul jakun, atau kedewasaan (proses balignya) ditandai dengan mimpi, bukan haid.

Dalam sebuah blog (yayasanfathurrahman.blogspot.com/2011/06/) menjelaskan hukum pernikahan banci musykil tersebut, dimana dalam Kitab “ Majmu’ No. 47 pada Juzu’ II bahwa khunsa ( banci ) itu ada dua macam :
1. Khunsa yang tidak mempunyai alat kelamin laki-laki dan tidak mempunyai alat kelamin perempuan
2. Khunsa yang punya dua alat kelamin, yaitu  kelamin laki dan kelamin perempuan

Khunsa yang pertama tidak bisa dinyatakan laki laki atau perempuan, kecuali stelah ia baligh, kalau dia menyukai atau berhasrat  dan berkeinginan terhadap perempuan , maka ia laki-laki, dan sebaliknya kalau tabiat(hasrat) nya cenderung kepada laki-laki berarti ia perempuan.
khunsa jenis kedua :  bisa diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, dengan melihat beberapa hal, seperti melalui buang air kecil , kalau buang air kecilnya keluar melalui alat kelamin yang laki maka dia laki-laki, dan sebaliknya kalau buang air kecilnya melalui alat perempuan ,maka ia perempuan. Hadis Rasulullah saw:

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في مولود له ما للرجال وما للنساء يورث من حيث يبول

“Dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad SAW bersabda, bagi orang yang memiliki kelamin laki dan perempuan, maka ia mendapatkan warisan tergandung dari mana ia buang air kecil.”
Selama banci itu musykil, belum nyata laki atau perempuannya, tidak sah dinikahkan, karena kemungkinan ia laki laki, dan mungkin pula ia perempuan, dalam kitab Jamal Halaman 15 Juzu’ 4 menerangkan sebagai berikut : أما الخنوثة المشكلة فلا يصح معها النكاح

( adapun seorang banci yang musykil maka nikahnya tidak sah)
Kalau seorang banci musykil saja tidak sah nikahnya, apalagi seorang wanita yang dengan sengaja merobah alat kelaminnya menjadi laki laki. Bahkan perbuatan merobah alat kelamin itu sendiri sudah dilaknat Rasululah saw, baca banci dalam syariat Islam .
Begitu juga dengan calon istri, harus jelas bahwa dia benar benar wanita (peremuan), tidak boleh khuntsa musykil, apalagi waria. Karena pernikahan yang dikenal dalam Islam hanyalah pernikahan laki-laki dengan perempuan. Tidak dibenarkan pernikahan sesama jenis, laki laki menikahi laki laki, atau dengan menikahi waria, walaupun dalam kondisi yang sudah dioperasi, karena asalnya adalah laki laki,maka dia tetap di hukum laki laki, begitu juga pernikahan wanita dengan wanita, ataupun secara fisik dia sudah merobahnya menjadi laki laki.
Pernikahan sejenis pernah terjadi pada umat Nabi Luth, yang terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Akhirnya mereka menerima azab berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga rumah-rumah mereka hancur. Kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri. Larangan pernikahan sejenis ini dituangkan Allah swt dalam surat an-Naml ayat 54-55,
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (54) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (55) [النمل/54، 55[
“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisya itu sedang kamu memperlihatkan(nya)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS. An-Naml (27): 54-55)
Diantara hikmah larangan tersebut adalah karena keberlangsungan kehidupan manusia akan terancam punah dengan dilegalkannya pernikahan gay ini. Bahkan ketentraman dan rasa kasih sayang akan sirna. Sementara dalam ayat lain Allah sudah menjelaskan:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21) [الروم/21

[

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum (30):21).

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzariyaat (51):49).

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
[
“Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An-Nahl (16):72).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1) [النساء/1

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” (QS. An-Nisaa (4):1).

Begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang aturan pernikahan tersebut. Dimana seorang wanita haruslah menikah dengan laki laki, jika seorang wali menikahkan putrinya dengan seorang banci musykil, ataupun dengan seorang wanita yang merobah kelaminnya menjadi laki laki, ataupun dengan sesama wanita, maka pernikahan mereka tidak sah.

Ketiga: syarat calon suami ataupun istri harus jelas orangnya.

Identitas seorang calon suami dan calon istri tersebut haruslah jelas, jelas identitasnya, baik nama, keberadaan, binti siapa dan lainnya, hal ini berlaku bagi suami jika pihak mempelai pria mewakilkan pernikahannya kepada pihak lain.

Keempat: syarat calon suami dan istri yaitu tidak dipaksa (dapat memberikan persetujuan)

Diantara syarat-syarat yang wajib dipenuhi salah satunya adalah kerelaan calon isteri. Wajib bagi wali untuk menanyai calon mempelai wanita terlebih dahulu , dan mengetahui kerelaannya sebelum diaqad nikahkan. Perkawinan merupakan pergaulan abadi antara suami isteri. Kelanggengan, keserasian, persahabatan tidaklah akan terwujud apabila kerelaan pihak calon isteri belum diketahui. Islam melarang pernikahan dengan paksaan, baik gadis atau janda dengan pria yang tidak disenanginya. Apabila seorang wanita di nikahkan tanpa kerelaannya, maka ia berhak menuntut dibatalkannya perkawinan yang dilakukan oleh walinya dengan paksa tersebut.
Berdasarkan hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah.
عن ابن عباس رضي الله عنه ان جارية بكرا اتت رسول الله صلى الله عليه و سلم فذكرت له أن أباها زوجها و هي كارهة فخيرها رسول الله صلى الله عليه و سلم (رواه أحمد و أبو داود و ابن ماجه)
“Dari Ibnu Abbas ra. bahwa jariyah, seorang gadis telah menghadap Rasulullah saw. ia mengatakan bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedang ia tidak menyukainya. Maka Rasulullah menyuruhnya memilih.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah).[ al-Asqalani,205-206]
Hadis lain dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah radhiallahu anha:
أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا

“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia, -dan dia seorang janda- dengan seorang laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)
Al-Bukhari memberikan judul bab hadits ini, “Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak syah).”
Memberikan persetujuan sebagai syarat adanya kesepakatan pernikahan di dalam Islam bisa dilaksanakan berdasarkan persetujuan secara suka rela tanpa adanya paksaan dari salah satu pihak. Setiap gadis maupun janda punya hak atas dirinya, oleh karena itu mereka berhak dimintai persetujuannya. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW.:

عن ابن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال الأيم أحق بنفسها من وليها و البكر تستأمر    بنفسها و إذنها صماتها (رواه البخار و مسلم

“Dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda : “janda lebih berhak atas dirinya dari pada walinya, dan gadis (perawan dimintai persetujuannya, dan persetujuannya adalah diam”. [Muhammad Ibn Ismail As-sanani, 1980,231]
Dalam hadis lain Rasulullah SAW berasabda :

عن ابن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال الثيب أحق لنفسها من وليها و البكر تستأمر و إذنها سكوتها (رواه مسلم

“Janda lebih berhak atas dirinya dari pada walinya dan kepada gadis perawan dimintai persetujuannya dan tanda persetujuannya adalah diam.” (HR. Muslim) [Ibnu Rusyd, juz 2, 2007, 403]
Di antara kemuliaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kaum wanita setelah datang Islam yaitu mereka mempunyai hak penuh dalam menerima atau menolak suatu lamaran atau pernikahan, yang mana hak ini dulunya tidak dimiliki oleh kaum wanita di zaman jahiliah. Karena itu tidak boleh bagi wali wanita manapun untuk memaksa wanita yang dia walikan untuk menikahi lelaki yang tidak disenangi wanita itu . Karena menikahkan dia dengan lelaki yang tidak disenanginya, berarti menimpakan kemudharatan kepadanya, baik mudharat duniawiah maupun mudharat dinniah (keagamaan). Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah membatalkan pernikahan yang dipaksakan kepada seorang janda dan pembatalan ini menunjukkan tidak syahnya, karena di antara syarat syahnya pernikahan adalah adanya keridhaan dari kedua calon mempelai.
Adapun bagi wanita yang masih gadis, maka Rasulullah memberikan pilihan, apakah wanita tersebut akan melanjutkan pernikahannya itu, ataukah membatalkannya, dan ini menunjukan sahnya pernikahan bagi gadis tersebut,walau dalam keadaan terpaksa, namun dia punya hak untuk membatalkannya.
Dikisahkan, Habibah binti Sahl datang kepada Rasulullah SAW. Dia berkata, “Kalau bukan karena takut kepada Allah ketika dia masuk, niscaya sudah kuludahi mukanya.”
Dimana sebelumnya Habibah belum pernah melihat suaminya, sampai saat malam pertama tiba. Habibah mengungkapkan kekecawaannya pada Rasul, “Ya Rasulullah, aku mempunyai wajah yang cantik sebagaimana engkau lihat, sedang Tsabit adalah laki-laki yang buruk rupanya.” Inilah yang telah membuat Habibah tidak bisa sepenuhnya menerima Tsabit sebagai suaminya
“Wahai Rasulullah, kepalaku tidak dapat bertemu dengan kepala Tsabit selamanya. Aku pernah menyingkap kemah, lalu aku melihat dia sedang bersiap-siap, ternyata ia sangat hitam kulitnya, sangat pendek tubuhnya, dan sangat buruk wajahnya. Ya Rasulullah, aku tidak mencela akhlak maupun agama suamiku. Tapi aku tidak menyukai kekufuran dalam Islam,” tukas Habibah. Rasulullah SAW bertanya, “Maukah engkau mengembalikan kebun pemberian suamimu?” Habibah menjawab, “Ya,” maka Rasulullah SAW bersabda, “Terimalah kebun itu hai Tsabit, dan jatuhkanlah talak satu kepadanya!”
Atas perintah rasul, akhirnya mereka bercerai. Inilah kisah khulu’ (gugatan cerai istri kepada suami) yang terjadi pertama kali dalam sejarah hukum Islam.
Akan tetapi larangan memaksa ini bukan berarti wali tidak punya andil sama sekali dalam pemilihan calon suami wanita yang akan dia walikan. Karena bagaimanapun juga wali biasanya lebih pengalaman dan lebih dewasa dibanding wanita tersebut. Karenanya wali disyariatkan untuk memberi saran-saran yang baik,kemudian meminta pendapat dan izin dari wanita yang bersangkutan sebelum menikahkannya. Tanda izin dari wanita yang sudah janda adalah dengan dia mengucapkannya, sementara tanda izin dari wanita yang masih perawan cukup dengan diamnya, karena biasanya perawan malu untuk mengungkapkan keinginannya
Adapun pernikahan yang dilakukan seorang calon suami karena terpaksa, sedangkan dia tidak menginginkannya, maka pernikahannya itu tidak sah, karena persetujuannya merupakan syarat sah nikah tersebut. Allah swt menjelaskan tentang perbuatan yang dilakukan dalam keadaan terpaksa dalam surah an-nahl ayat 106:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa kafir kepada Allâh setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allâh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allâh menimpanya dan mereka akan mendapat adzab yang besar “[QS.an-Nahl, 16:106]
Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas, bahwa Rasulullah saw berwasiat kepada sejumlah shahabatnya, “Jangan kalian menyekutukan Allâh kendati kalian dipotong-potong atau dibakar.” Syirik yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah syirik dengan hati, seperti difirmankan Allâh Azza wa Jalla :

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya…” [QS.Luqmân,31:15]

Allâh SWT juga berfirman :
وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allâh menimpanya dan mereka akan mendapat adzab yang besar.” [QS.an-Nahl, 16:106]
Dari sini dapat dipahami bahwa kebolehan kafir yang terpaksa yang dibolehkan dalam QS.an-Nahl, 16:106 diatas hanyalah semata mata terpaksa demi keamanan jiwanya yang terancam. Jika seseorang dipaksa mengatakan suatu perkataan tanpa alasan yang benar, maka hukum yang mestinya merupakan konsekuensi dari perkataan tersebut tidak berlaku. Dan perkataan tersebut tidak bermakna apa-apa karena perkataan yang keluar dari mulutnya itu tidak dilandasi keridhaan (kemauan). Jadi, ia dimaafkan dan ia tidak dikenakan hukuman di dunia dan di akhirat. Karena inilah, orang lupa berbeda dengan orang tidak tahu, baik dalam masalah-masalah akad seperti jual beli dan nikah, atau dalam masalah-masalah pembatalan seperti khulu’, perceraian, dan pemerdekaan budak. Begitu juga dalam masalah sumpah dan nadzar. Ini pendapat jumhur ulama yang juga pendapat Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad. [Ibnu Rajab al-Hanbali]

Kelima: syarat calon suami dan istri adalah tidak terdapat halangan pernikahan

Ada beberapa halangan pernikahan:

1. Dalam keadaan ihram
Baik calon suami ataupun calon istri yang akan menikah atau akan dinikahi tidak boleh dalam keadaan ihram (haji ataupun umrah), karena salah satu hal yang tidak boleh dilakukan dalam keadaan ihram adalah melamar dan melakukan akad nikah. Seseorang yang sedang melakukan ihram, tidak dibolehkan untuk menikahi atau dinikahkan, ataupun melamar, berdasarkan riwayat Muslim dari Utsman bahwa nabi saw bersabda :

لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ

“Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikah, dinikahkan dan meminang.”
Begitu juga, tidak boleh menjadi wakil di dalam menikah. Jika dia melaksanakan pernikahan, maka nikahnya batal dan tidak sah. Tetapi seorang suami tidak dilarang untuk rujuk pada istrinya, karena istri yang dicerai dengan thalaq raj’i statusnya masih istrinya. Maka rujuk kepada istrinya dikatagorikan mempertahankan istri, bukan melakukan akad.
2. Halangan yang khusus untuk calon istri, terhalang dinikahi karena statusnya sebagai istri orang lain atau sudah bercerai, tapi masih dalam masa iddah.

Maka seorang yang sudah menikah secara sah, haram untuk dinikahi berdasarkan surat an-Nisa ayat 24:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

“Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali budak-budak perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki, sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina” (QS.an-Nisa,4 :24)

3. Terhalang dinikahi karena sebab mahram
Mahram ada yang sifatnya muabbad (selamanya) ada juga yang muaqqat (sementara).
Penjelasan syarat ini dapat dilihat : sebab terhalang menikahi karena sebab mahram

Semoga bermanfaat
Ditulis oleh: Ilda hayati, Lc., MA(dosen syariah STAIN Curup)

Comments are closed.