PERANAN IMAM SYAFI’I DALAM PENETAPAN HUKUM ISLAM

1. Biografi Imam Syafi’i dan Latar Belakang Pendidikannya
Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza pada bulan Rajab tahun 150 H. (767 M.). Menurut suatu riwayat, pada tahun itu juga wafat Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i wafat di Mesir pada tahun 204 H (819 M). Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Abu Abdillah Muhammad BIN Idris ibn Abbas ibn Syafi’i ibn Saib ibn Ubaid ibn Yazid ibn Hasyim ibn Abd al-Muththalib ibn al-Manaf ibn Qushay al-Quraisyiy.
Abd. Al-Manaf ibn Qushay kakek kesembilan dari Imam Syafi’i adalah Abd Manaf ibn Qushay kakek keempat dari Nabi Muhmmad SAW. Jadi nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Nabi Muhmmad SAW. Pada Abd Manaf.
Adapun nasab Imam Syafi’i bin fathimah binti Abdullah ibn Hasan ibn Husen ibn Ali ibn Abi Thalib. Dengan demikian, maka Ibu Imam Syafi’i adalah cucu dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, menantu Nabi Muhmmad SAW. Dan khalifah keempat yang terkenal. Dalam sejarah ditemukan, bahwa Saib ibn Yazid, kakek Imam Syafi’i yang kelima adalah sahabat Nabi Muhmmad SAW.
Ketika Ayah dan Ibu Imam Syafi’i pergi ke Syam dalam suatu urusan, lahirlah Syafi’i di Gazah, atau Asqalan. Ketika ayahnya meninggal, ia masih kecil. Ketika baru berusia dua tahun, Syafi’i kecil dibawa Ibunya ke Mekah. Ia dibesarkan ibunya dalam keadaan fakir.
Dalam asuhan Ibunya ia dibekali pendidikan, sehingga pada umur 7 tahun sudah dapat menghafal al-Qur’an. Ia mempelajari al-Qur’an pada Ismail ibn Qastantin, qari kota Makkah. Sebuah riwayat mengatakan, bahwa Syafi’i pernah hatam al-Qur’an dalam bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.
Imam Syafi’i pergi dari Makkah menuju suatu dusun Bani Huzail untuk mempelajari bahasa Arab karena di sana terdapat pengajar-pengajar bahasa Arab yang fasih dan asli. Imam Syafi’i tinggal di Huzail selama kurang lebih 10 tahun. Di sana ia belajar sastra Arab sampai mahir dan banyak menghafal Sya’ir-sya’ir dari Amru,u Alqais, Zuhaer dan jarir. Dengan mempelajari sastra Arab, ia terdorong untuk memahami kandungan al-Qur’an yang berbahasa Arab yang fasih, asli dan murni. Syafi’i menjadi orang terpercaya dalam soal Sya’ir-sya’ir kaum Huzael sebelum menekuni fiqh dan hadits. Imam Syafi’i tertarik pada puisi, sya’ir dan sajak bahasa Arab. Ia belajar hadits dari Imam Malik di Madinah. Dalam usia 13 tahun ia telah dapat menghafal al-Muwaththa. Sebelum Imam Syafi’i pernah belajar hadits kepada Sufyan ibn Uyainah salah seorang ahli hadits di Makkah.
Menurut khudhary Bek, sebeum imam Syafi’i pergi ke Bghdad ia telah mempelajari hadits dari dua oarang ahli hadits kenamaan, yaitu Sufyan ibn ‘Uyainah di Makkah dan imam Malik di Madinah. Keduanya merupakan “syaikh” Imam Syafi’i yang terbesar, sekalipun ada “syaikh” yang lainnya.
Menurut ahmad Amin dalam dhuba al-islam, Imam Syafi’i belajar fiqh dari Muaslim Ibn Khali al-zanjiy seorang Mufti Makkah. Kemudian ia ke Madianah dan menjadi Murid imam Malik serta mempelajari al-Muathatha’ yang telah dihafalnya, sehingga imm Malik melihat, bahwa al- Syafi’i termasuk orang yang cerdas dan kuat ingatannya. Oleh sebab iti imam Malik sangat menghormati dan dekat dengannya.
Menurut ibn Hajar al-‘asqalany, selain kepada Muslim ibn Khalid al-zanjiy, Malik dan Syufyan ibn Unainah, imam Syafi’i belajar pula kepada ibrahim ibn sa’id ibnu salim Alqadah, al- Darwardiy, Abd Wahab, al-Tasqafiy, ibn Ulayyah, abu Damrah, Hatim ibn Ismail, Ibrahim ibn Muhammad ibn Abi Yahya, Isma’il bin Ja’far, Muhammad ibn Khalid Al- Jundiy, Umar ibn Muhammad ibn Ali ibn Safi’i, Athaf ibn Khalid al- Mahzumy, Hisyam ibn Yusuf al-shan’any dan sejumlah Ulama’ lainnya. Imam Syafi’i belajar kepada imam Malik dimadinah sampai imam Mlaik meninggal. Setelah itu ia pergi merantau keyaman. Di yaman pernah mendapat tuduhan dari Khalifah Abbasiyah ( penguasa waktu itu). Bahwa al- Syafi’i telah membaiat Alway atau di tuduh sebagai Say’iy. Karena tuduhan itu maka ia dihadapkan kepada Harun al- Rasyid, khalifah Abbasiyah. Tetapi akhirnya Harun Al-Rasyid membebaskannya dari tuduhan tersebut. Perestiwa itu terjadi yahu 184 H, ketika Syafi’i di perkirakan berusia 34 tahun.
Tahu 195 H, al- Syafi’i pergi kebghdad dan menetap disana selam 2 tahun. Setelah itu ia kembali ke Makkah. Pada tahun 198 H. Ia kembali lagi kebghdad dan menetap disana beberapa tahun, kemudian tahun 198 H. Pergi kemesir dan menetap di Mesir smpai wafat pada tanggal 29 Rajab sesudan menunaikan shalat isya. Imam Syafi’i dikuburkan di suatu tempatQal’ah, yang bernama Mishru Alqadimah.
Ibnu hajar mengatakan pula, bahwa ketika kepemimpinan fiqh di Madinah berpuncak pada Imam Malik, Imam syafi’i pergi kemadinah untuk belajar kepadanya. Dan ketika kepemimpinan fiqh di Irak berpuncak pada Abu Hanifah dan Imam Syafi’i belajar fiqh di Irak kepada Muhammad ibn al- Hassan AL- sayibany ( salah seorang murid abu hanifah ). Oleh sebab itu pada imam Syafi’i behimpun pengetahuan fiqh Ashab al- Hadits ( imam Malik) dan fiqh ashab al-Ra’yi ( Abu Hanifah. )
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Imam Syafi’i mempunyai pengetahuan sangat luas dalam bidang lugha dan adab , di samping pengetahuan hadist yang ia peroleh dari beberap negeri. Sedangkan pengetahuannya dalam bidang fiqh meliputi fiqh Ashab Al-Ra’yi di Irak dan fiqh Ashab al- Hadits di Hijaz.

2. Pola Pemikiran, Metode Istidlal dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Imam Syafi’i dalam Menetapkan Hukum Islam
Adapun aliran keagamaan Imam Syafi’i, sama dengan Imam Mazhab lainnya dari Imam-imam Mazhab empat: Abu Hanifah, Malik bin Anas dan Ahmad ibn Hanbal adalah termasuk golongan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam bidang furu terbagi kepada dua aliran, yaitu aliran Ahlu al-hadits dan aliran Ahlu al-Ra’yi. Imam Syafi’i termasuk Ahlu al-hadits. Imam Syafi’i sebagai imam Rihalah fiThalab al-fiqh, pernah pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu kepada Imam Malik dan pergi ke Irak untuk menuntut ilmu kepada Muhammad ibn al Hasan, salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Karena itu, meskipun Imam Syafi’i digolongkan sebagai orang yang beraliran Ahlu al-hadits, namun pengetahuannya tentang fiqh ahlu al-ra’yu tentu akan memberikan pengaruh kepada metodenya dalam menetapkan hukum.
Di samping itu, pengetahuan Imam Syafi’i tentang masalah sosial kemasyarakatan sangat luas ia menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat desa (Badawy) dan menyaksikan pula kehidupan masyarakat yang sudah maju peradabannya pada tingkat awal di Irak dan yaman. Juga menyaksikan kehidupan masyarakat yang sudah sangat kompleks peradabannya, seperti yang terjadi di Irak dan Mesir. Ia juga menyaksikan kehidupan orang Zuhud dan Ahlu al-hadits. Pengetahuan Imam Syafi’i dalam bidang kehidupan ekonomi dan kemasyarakatan yang bermacam-macam itu, memberikan bekal baginya dalam ijtihadnya pada masalah-masalah hukum yang beraneka ragam. Hal ini memberikan pengaruh pula pada mazhabnya.
Menurut Mushtafa al-Siba’iy bahwa Imam Syafi’ilah yang meletakan dasar pertama tentang qaidah periwayatan hadits dan ia pula yang mempertahankan Sunnah melebihi gurunya yaitu Imam Malik ibn Anas. Dalam bidang hadits, Syafi’i berbeda dengan Abu Hanifah dan Malik bin Anas menurut Imam Syafi’i apabila suatu hadits sudah shahih sanadnya dan mustahil (bersambung sanadnya ) kepada Nabi SAW. Maka sudah wajib diamalkan tanpa harus dikaitkan dengan amalan Ahlu al-Madinah sebagaimana yang disyaratkan Imam Malik dan tidak pula perlu ditentukan syarat yang terlalu banyak dalam penerimaan hadits, sebagaimana yang di syaratkan oleh Imam Abu Hanifah. Karena itu, Imam Syafi’i dijuluki sebagai Nashir al-Sunnah (penolong Sunnah).
Imam Syafi’i mempunyai dua pandangan,yang dikenal dengan qaul al-qadim dan qaul al-jadid. Qaul qadim terdapat kitab yang bernama al-Hujjah, yang dicetuskan di Irak. Qaul jadid terdapat dalam kitabnya yang bernama al-Umm, yang dicetuskan di Mesir. Adanya dua pandangan hasil ijtihad itu, maka diperkirakan bahwa situasi tempat pun turut mempengaruhi ijtihad Imam Syafi’i. Keadaan di Irak dan di Mesir memang berbeda, sehingga membawa pengaruh terhadap pendapat-pendapat dan ijtihad Imam Syafi’i. Ketika di Irak, Imam Syafi’i menela’ah kitab-kitab fiqh Irak dan memadukan dengan ilmu yang ia miliki didasarkan pada teori Ahlu al-Hadits.
Pendapat qadim didiktekan Imam Syafi’i kepada murid-muridnya di Irak (di antara muridnya yang terkenal di Irak adalah Ahmad ibn Hanbal, al-Husaen al-Karabisiy dan al-Za’faraniy).
Kemungkinan besar yang dimaksud dengan qaul qadim Imam Syafi’i adalah pendapat-pendapatnya dihasilkan dari perpaduan antara mazhab Iraqy dan pendapat Ahlu al-Hadits. Setelah itu, Imam Syafi’i pergi ke Makkah dan tinggal di sana untuk beberapa lama. Makkah pada waktu itu merupakan tempat yang sering dikunjungi para ulama dari berbagai negara Islam. Di Makkah Imam Syafi’i dapat belajar dari mereka yang datang dari berbagai negara Islam itu dan mereka pun dapat belajar dari Imam Syafi’i. Tampaknya qaul qadim ini didiktekan oleh Imam Syafi’i kepada murid-muridnya (ulama Irak ) yang datang kepadanya ketika ia tinggal di Irak. Sebab Imam Syafi’i datang ke Irak sebanyak dua kali. Kedatangannya yang pertama kali ke Irak tidak disebutkan untuk menyampaikan ajaran-ajaran kepada para ulama di sana, hanya disebutkan, bahwa ia bertemu dengan Muhamma ibn al-Hasan al-Syaibaniy salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i sering mengadakan munazharah (diskusi) dengannya sehingga menurut khudhary Bek, pemikiran Imam Syafi’i penuh dengan hasil diskusi tersebut. Setelah itu Imam Syafi’i kembali ke Hijaz dan menetap di Makkah. Kemudian kembali lagi ke Irak dan di sana ia mendiktekan qaul qadimnya kepada murod-muridnya (ulama Irak).
Tidak jelas, apakah pendapat Imam Syafi’i yang disampaikan di Makkah itu qaul qadimnya atau qaul jadidnya. Tetapi dari sejarah perjalanan Imam Syafi’i tersebut,dapat diperkirakan, bahwa pendapatnya yang disampaikan di Makkah itu adalah qaul qadimnya, meskipun pada saat itu qaul qadimnya belum didiktekan kepada murid-muridnya (ulama Irak).
Qaul qadim Imam Syafi’i merupakan perpaduan antara fiqh Irak yang bersifat rasional dan fiqh Ahlu al-Hadits yang bersifat teradisional. Tetapi fiqh yang demikian, akan lebih sesuai dengan ulama-ulama yang datang dari berbagai negara Islam ke Makkah pada saat itu, mengingat situasi dan kondisi negara-negara yang sebagian ulamanya datang ke Makkah pada waktu itu berbeda-beda satu sama lain. Mereka dapat memilih pendapat yang sesuai dengan situasi dan kondisi negaranya. Itu pula yang menyebabkan pendapat Imam Syafi’i mudah tersebar keberbagai negara Islam. Kedatangan Imam Syafi’i kedua kalinya ke Irak hanya beberapa bulan saja tinggal di sana, kemudian ia pergi ke Mesir. Di Mesir inilah terus qaul jadidnya yang didiktekan kepada murid-muridnya (di antara murid-murid Imam Syafi’i yang terkenal di Mesir adalah al-Rabi al-Muradiy, al-Buwaithiy dan al-Muzaniy), qaul jadid Imam Syafi’i ini dicetuskannya setelah bertemu dengan para ulama Mesir dan mempelajari fiqh dan hadits dari mereka serta adat istiadat, situasi dan kondisi di Mesir pada waktu itu, sehingga Imam Syafi’i merubah sebagian hasil ijtihadnya yang telah difatwakannya di Irak. Jika kandungan qaul jadid Imam Syafi’i adalah hasil ijtihadnya setelah pindah ke Mesir. Qaul jadidnya ini ditulis dalam kitab al-Umm.
Adapun pegangan Imam Syafi’i dalam menetapkan hukum adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan Imam Syafi’i dalam kitabnya, al-Risalah sebagai berikut:
ليس لأحد أن يقول أبدا في شيئ حل أو حرم إلا من جهة العلم وجهة الخبر في الكتاب والسنة والإجماع والقياس
Tidak boleh seseorang mengatakan dalam hukum selamanya, ini halal, ini haram kecuali kalau ada pengetahuan tentang itu. Pengetahuan itu adalah kitab Suci al-Qur’an, Sunnah, Ijma, dan Qiyas.
Pokok pikiran Imam Syafi’i dapat dipahami dari perkataannya yang tercantum dalam kitabnya, al-Umm, sebagai berikut:
الأصل قرأن وسنة فإن لم يكن فقياس عليهما . واذا اتصل الحديث من رسول الله وصح الإسناد فهو المنتهى. والإجماع أكبر من الخبر المفرد والحديث على ظاهره وإذا احتمل المعاني فما أشبه منها ظاهره أولاها به وإذا تكافأت الأحاديث فأصحها إسنادا أولاها “وليس المنقطع بشيء ما عدا منقطع ابن المسيب ولا قياس أصل على أصل ولا يقال لأصل لم” كيف؟وإنما يقال للفرع لم؟فإذا صح قياسه على الأصل صح وقامت به حجة.

Dasar utama dalam menetapkan hukum adalah al-Qur’an dan Sunnah.jika tidak ada, maka dengan mengqiaskan kepada al-Qur’an dan Sunnah. Apabila sanad hadits bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Dan shahih sanadnya, maka itulah yang dikehendaki. Ijma sebagai dalil adalah lebih kuat khabar abad dan hadits menurut zhahirnya. Apabila suatu hadits mengandung arti lebih dari satu pengertian, maka arti yang zhahirlah yang utama. Kalau hadits itu sama tingkatannya, maka yang lebih shahihlah yang lebih utama. Hadits Munqathi tidak dapat dijadikan dalil kecuali jika diriwayatkan oleh ibn Musayyab. Suatu pokok tidak dapat diqiyaskan kepada pokok yang lain dan terhadap pokok. Tidak dapat dikatakan mengapa dan bagaimana, tetapi kepada cabang dapat dikatakan mengapa. Apabila sah mengqiyaskan cabang kepada pokok, maka qiyas itu sah dan dapat dijadikan hujjah.
Dan perkataan beliau tersebut, dapat diambil kesimpulan, bahwa pokok-pokok pikiran beliau dalam mengistibatkan hukum adalah:

a. AL-Qur’an dan al-Sunnah
Imam Syafi’i memandang al-Qur’an dan Sunnah berada dalam satu martabat. Beliau menempatkan al-Sunnah sejajar dengan al-Qur’an, karena menurut beliau, Sunnah itu menjelaskan al-Qur’an, kecuali hadits ahad tidak sama nilainya dengan al-Qur’an dan hadits mutawatir. Disamping itu, karena al-Qur’an dan Sunnah keduanya adalah wahyu, meskipun kekuatan Sunnah secara terpisah tidak sekuat seperti al-Qur’an.
Dalam pelaksanaannya, Imam Syafi’i menempuh cara, bahwa apabila di dalam al-Qur’an sudah tidak ditemukan dalil yang dicari, ia menggunakan hadits mutawatir. Jika tidak ditemukan dalam hadits mutawatir, ia menggunakan khabar ahad. Jika tidak ditemukan dalil yang dicari dengan kesemuanya itu, maka dicoba untuk menetapkan hukum berdasarkan zhahir al-Qur’an atau Sunnah secara berturut. Dengan teliti ia mencoba untuk menemukan mukhashshish dari al-Qur’an dan Sunnah. Selanjutnya menurut Sayyid Muhammad Musa dalam kitabnya al-ijtihad, Imam Syafi’i jika tidak menemukan dalil dari zhahir nash al-Qur’an dan Sunnah serta tidak ditemukan mukhashshishnya, maka ia mencari apa yang pernah dilakukan Nabi atau keputusan Nabi. Kalau tidak ditemukan juga, maka dicari lagi bagaimana pendapat para ulama sahabat. Jika ditemukan ada ijma dari mereka tentang hukum masalah yang dihadapi, maka hukum itulah yang ia pakai.
Imam Syafi’i walaupun berhujjah dengan hadits ahad, namun beliau tidak menempatkannya sejajar dengan al-Qur’an dan hadits mutawatir, karena hanya al-Qur’an dan hadits mutawatir sajalah yang qath’iy tsebutnya,yang dikafirkan orang orang yang mengingkarinya dan disuruh bertaubat.
Imam Syafi’i dalam menerima hadits ahad mensyaratkan sebagai berikut:
1. Perawinya terpercaya. Ia tidak menerima hadits dari orang yang tidak terpercaya.
2. Perawinya berakal, memahami apa yang diriwayatkannya.
3. Perawinya dhabith (kuat ingatan ).
4. Perawinya benar-benar mendengar sendiri hdits itu dari orang yang menyampaikan kepadanya.
5. Perawi itu tidak menyalahi para ahli ilmu yang juga meriwayatkan hadits itu.
Imam Syafii mengatakan, bahwa hadits Rasulullah SAW. Tidak mungkin menyalahi al-Qur’an dan tidak mungkin merubah sesuatu yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an. Imam Syafi’i mengatakan:
كل ما سن رسول الله عليه وسلم مع كتاب الله سنتي فهي موافقة كتاب الله في النص بمثله وفي الجملة بالبين عن الله والبين أكثر تفسير من الجملة وما يسن مما ليس فيه نص كتاب فبفرض الله طاعته عامة في أمره.

Segala yang Rasulullah Sunnahkan bersama Kitabullah adalah Sunnahku (jalanku), maka Sunnah itu sesuai dengan Kitabullah dalam menashkan dengan yang sepertinya secara umum adalah merupakan penjelasan sesuatu dari Allah dan penjelasan itu lebih banyak merupakan tafsir dari firman Allah. Apa yang di Sunnahkan dari sesuatu yang tidak ada nashnya dari al-Qur’an, maka dengan yang Allah Fardhukan untuk mentaatinya secara umum terhadap perintahnya, kita harus mengikutinya.

b. Ijma’
Imam Syafi’i mengatakan, bahwa ijma adalah hujjah dan ia menempatkan ijma ini sesudah a-Qur’an dan al-Sunnah sebelum qiyas. Imam Syafi’i menerima ijma sebagai hujjah dalam masalah-masalah yang tidak diterangkan dalam al-Qur’an dan Sunnah.
Ijma menurut pendapat Imam Syafi’i adalah ijma ulama pada suatu masa di seluruh dunia Islam, bukan ijma suatu negeri saja dan pula ijma kaum tertentu saja. Namun Imam Syafi’i mengakui, bahwa ijma sahabat merupakan ijma yang paling kuat.
Di samping itu Imam Syafi’i berteori, bahwa tidak mungkin segenap masyarakat Muslim bersepakat dalam hal-hal yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Imam Syafi’i juga menyadari, bahwa dalam praktek, tidak mungkin berbentuk atau mengetahui kesepakatan semacam itu semenjak Islam meluas ke luar dari batas-batas Madinah. Dengan demikian, ajarannya tentang ijma ini hakikatnya bersifat negatif. Artinya, ia dirancang untuk menolak otoritas kesepakatan yang hanya dicapai pada suatu tempat tertentu Madinah misalnya. Dengan demikian, diharapkan keberagaman yang bisa ditimbulkan oleh konsep konsensos oleh kalangan ulama di suatu tempat yang ditolaknya dapat dihilangkan.
Ijma yang dipakai Imam Syafi’i sebagai dalil hukum itu adalah ijma yang disandarkan kepada nash atau ada landasan riwayat dari Rasulullah SAW. Secara tegas ia mengatakan, bahwa ijma yang berstatus dalil hukum itu adalah ijma sahabat.
Imam Syafi’i hanya mengambil ijma sharih sebagai dalil hukum yang menolak ijma sukuti menjadi dalil hukum. Alsannya menerima ijma sharih, karena kesepakatan itu disandarkan kepada nash dan berasal dari semua mujtahid secara jelas dan tegas sehingga tidak mengandung keraguan. Sementara alasannya menolak ijma sukuti, karena tidak merupakan kesepakatan semua mujtahid. Diamnya sebagian mujtahid menurutnya belum tentu menunjukan setuju.

c. Qiyas
Imam Syafi’i menjadikan qiyas sebagai hujjah dan dalil keempat setelah al-Qur’an, Sunnah dan Ijma dalam menetapkan hukum.
Imam Syafi’i adalah mujtahid pertama yang membicarakan qiyas dengan patokan kaidahnya dan menjelaskan asas-asasnya. Sedangkan mujtahid sebelumnya sekalipun telah menggunakan qiyas dalam berijtihad, namun belum membuat rumusan patokan kaidah dan asas-asasnya, bahkan dalam praktek ijtihad secara umum belum mempunyai patokan yang jelas, sehingga sulit diketahui mana hasil ijtihad yang benar dan mana yang keliru. Di sinilah Imam Syafi’i tampil kedepan memilih metode qiyas serta memberikan kerangka teoritis dan metodologinya dalam bentuk kaidah rasional namun tetap praktis.untuk itu Imam Syafi’i pantas diakui dengan penuh penghargaan sebagai peletak pertama metodologi pemahaman hukum dalam Islam sebagi satu disiplin ilmu, sehingga dapat dipelajari dan di ajarkan.
Sebagai dalil penggunaan qiyas, Imam Syafi’i mendasarkan pada firman Allah dalam al-Qur’an Surah al-Nisa 59:
         
. “kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)”

Imam Syafi’i menjelaskan,bahwa maksud kembalikan kepada Allah dan Rasulnya itu ialah qiyaskanlah kepada salah satu, dari al-Qur’an atau Sunnah
Selain berdasarkan al-Qur’an, Imam Syafi’i, juga berdasarkan kepada Sunnah dalam menetapkan hukum qiyas sebagai hujjah, yaitu hadits tentang dialog Rasulullah dengan sahabat yang bernama Mu’az ibn Jabal, ketika ia akan diutus ke Yaman sebagai Gubernur di sana:
كيف تقضي إذا عرض لك قضاء قال أقضي بكتاب الله . قال فإن لم تجد في كتاب الله قال فبسنة رسول الله. قال فإ لم تجد في سنة رسول الله قال أجتهد رأيي ولاالو.

Bagaimana cara engkau memutuskan perkara bila diajukan kepadamu? Mu’az menjawab, saya putuskan berdasarkan kitabullah. Rasulullah bertanya lagi, jika tidak engkau temukan dalam kitabullah? Mu’az menjawab, jika tidak ditemukan, maka dengan Sunnah. Rasulullah bertanya lagi, jika tidak engkau temukan dalam Sunnah. Mu’az menjawab pula, jika tidak ditemukan dalam Sunnah, maka saya berijtihad dengan pendapat saya dan tidak mengabaikan perkara tersebut.
Kata أجتهد رأيي dalam hadits di atas, merupakan suatu usaha maksimal yang dilakukan mujtahid dalam rangka menetapkan hukum suatu kejadian, yang dalam istilah ahli ushul fiqh disebut ijtihad. Menetapkan hukum dengan cara menganalogikan, adalah salah satu metode dalam berijtihad. Jadi ungkapan ijtihad dalam hadits tersebut adalah termasuk cara menetapkan hukum dengan qiyas, bahkan Imam Syafi’i memberikan konotasi yang sama antara ijtihad dengan qiyas.
Menurut Imam Syafi’i,peristiwa apapun yang dihadapi kaum Muslimin, pasti didapatkan petunjuk tentang hukumnya dalam al-Qur’an, sebagaimana dikatakannya dalam kitab al-Risalah sebagai berikut.:
فليست تنزل بأحد من أهل دين الله ناز لة إلا وفي كتاب الله الدليل على سبيل الهد فيه.
Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi pada penganut agama Allah yang tidak tedapat ketentuan hukumnya melainkan didapatkan petunjuk tentang cara pemecahannya dalam kiabullah.
Keterangan Imam Syafi’i ini didasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an, antara lain dalam surat al-Nahal, ayat 86 sebagai berikut:
 •          
dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

3. Karya-karya Imam Syafi’i,Murid-muridnya Serta Penyebaran dan Perkembangan Mazhabnya
Menurut Abu Bakar al-Baihaqiy dalam kitab Ahkam al-Qur’an, bahwa karya Imam Syafi’i cukup banyak, baik dalam bentuk risalah, maupun dalam bentuk kitab. Al –Qadhi Imam Abu Hasan ibn Muhammad al-Maruzy mengatakan bahwa Imam Syafi’i menyusun 113 buah kitab tentang tafsir, fiqh, adab dan lain-lain.

Kitab-kitab karya Imam Syafi’i dibagi oleh ahli sejarah menjadi dua bagian:
1. Kitab yang ditulis Imam Syafi’i sendiri, seperti al-Umm dan al-Risalah (riwayat dari muridnya yang bernama al-Buwaithy dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Rabi ibn Sulaiman).
Kitab al-Umm berisi masalah-masalah fiqh yang dibahas berdasarkan pokok-pokok pikiran Imam Syafi’i dalam al-Risalah.
Selanjutnya,kitab al-Risalah adalah kitab yang pertama dikarang Imam Syafi’i pada usia muda belia. Kitab ini ditulis atas permintaan Abd Rahman ibn Mahdy di Makkah, karena Abd Rahman ibn al-Mahdy meminta kepada beliau agar menuliskan suatu kitab yang mencakup ilmu tentang arti al-Qur’an, nasih dan mansukh serta hadits Nabi kitab ini setelah dikarang, disalin oleh murid-muridnya, kemudian dikirim ke Makkah. Itulah sebabnya maka dinamai al-Risalah, karena setelah dikarang lalu dikirim kepada Abd Rahman ibn Mahdy di Makkah. Kitab al-Risalah ini akhirnya membawa keagungan dan kemasyhuran nama Imam Syafi’i sebagai pengulas ilmu ushul fiqh dan yang mula-mula memberi asas ilmu ushul fiqh serta yang mula-mula mengadakan peraturan tertentu bagi ilmu fiqh dan dasar yang tetap dalam membicarakan secara keritis terhadap Sunnah, karena di dalam kitab al-Risalah ini diterangkan kedudukan hadits ahad, qiyas istihsan dan perselisihan ulama.
2. Kitab yang ditulis oleh murid-muridnya, seperti Mukhtasar oleh al-Muzany dan Mukhtashar oleh al-Buwaithy kedudukannya merupakan ikhtisar dari kitab ImamSyafi’i: AL-Imla wa al-Amaly.
Kitab-kitab Imam Syafi’i,baik yang ditulisnya sendiri, didikekan kepada muridnya, maupun yang dinisbahkan kepadanya, antara lain sebagai berikut:
1. Kitab al-Risalah, tentang ushul fiqh (riwayat Rabi).
2. Kitab al-Umm, sebuah kitab fiqh yang di dalamnya dihubungkan pula sejumlah kitabnya.
a. Kitab Ikhtilaf Abi Hanifah wa Ibn Abi Laila.
b. Kitab Khilaf Ali wa Ibn Mas’ud, sebuah kitab yang menghimpun permasalahan yang diperselisihkan antara Ali dengan Ibn Mas’ud dan antara Imam Syafi’i dengan Abi Hanifah.
c. Kitab Ikhtilaf Malik wa al Syafi’i.
d. Kitab Jama’i al-Ilmi.
e. Kitab al-Radd Ala Muhammad in al-Hasan.
f. Kitab Siyar al-Auza’iy.
g. Kitab Ikhtilaf al-Hadits.
h. Kitab Ibthalu al-Istihsan.
3. Kitab al-Musnad, berisi hadits-hadits yang terdapat dalam kitab al-Umm yang dilengkapi dengan sanad-sanadnya.
4. Al-Imla.
5. AL-Amaliy.
6. Haramlah (didiktekan kepada muridnya yang bernama Haramlah ibn Yahya).
7. Mukhtashar al-Muzaniy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i).
8. Mukhtashar al-Buwaithy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i).
9. Kitab Ikhtilaf al-Hadits (penjelasan Imam Syafi’i tentang hadits-hadits Nabi SAW.).
Kitab-kitab Imam Syafi’i dikutip dan dikembangkan para muridnya yang tersebar di Makkah, di Irak, di Mesir, dan lain-lain.
Kitab al-Risalah merupakan kitab yang memuat ushul fiqh. Dari kitab al-Umm dapat diketahui,bahwa setiap hukum far’i yang dikemukakannya, tidak lepas dari penerapan ushul fiqh.
Imam Syafi’i ketika datang ke Mesir, pada umumnya dikala itu peduduk Mesir mengikuti mazhab Hanafi dan mazhab Maliki. Kemudian setelah ia membukukan kitabnya (qaul jadid), ia mengajarkannya di Masji Amr ibn Ash, maka mulai berkembanglah pemikiran mazhabnya di Mesir, apalagi dikala itu yang menerima pelajaran darinya banyak dari kalangan ulama, seperti: Muhammad ibn Abdullah ibn Abd al-Hakim, Ismail ibn Yahya, al-Buwaithy, al-Rabi, al-Jiziy, Asyhab ibn al-Qasim dan ib Mu’az. Mereka adalah ulama yang berpengaruh di Mesir. Inilah yang mengwali tersiarnya mazhab Syafi’i sampai keseluruh pelosok.
Penyebaran mazhab Syafi’i ini antara lain di Irak, lalu berkembang dan tersiar ke Khurasan,pakistan, Syam, Yman, Persia, Hijaz, India, daerah-daerah Afrika dan Andalusia sesudah tahun 300 H. Kemudian mazhab Syafi’i ini tersiar dan berkembang, bukan hanya di Afrika, tetapi keseluruh pelosok negara-negara Islam, baik di Barat, maupun di Timur, yang dibawa oleh para muridnya dan pengikut-pengikutnya dari satu negeri kenegeri lain, termasuk keIndonesia. Kalau kita melihat praktek ibadah dan mu’amalah umat Islam di indonesia, pada umumnya mengikuti mazhab Syafi’i. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor:
a. Setelah adanya hubungan Indonesia dengan Makkah dan di antara kaum Muslimin Indonesia yang menunaikan ibadah haji, ada yang bermukim di sanah dengan maksud belajar ilmu agama. Guru-guru mereka adalah ulama-ulama yang bermazhab Syafi’i dan setelah kembali ke Indonesia, mereka menyebarkannya.
b. Hijrah kaum Muslimin dari Hadharamaut ke Indonesia adalah merupakan sebab yang penting pula bagi tersiarnnya mazhab Syafi’i di Indonesia. ulama dari Hadharamaut adalah bermazhab Syafi’i.
c. Pemerintah kerajaan Islam di Indonesia, selama zaman Islam mengesahkan dari penetapan mazhab Syafi’i menjadi haluan hukum di Indonesia. keadaan ini diakui pula oleh pemerintah hindia Belanda, terbukti pada masa-masa akhir dari kekuasaan belanda di Indonesia, kantor-kantor kepenghuuan dan pengadilan Agama, hanya mempunyai kitab-kitab fiqh Syafi’iyyah, seperti kitab al-Tuhfah, al-Majmu, al-Umm dan lain-lain.
d. Para pegawai jawatan dahulu, hanya terdiri dari ulama mazhab Syafi’i karena belum ada yang lainnya.

sumber:Pengantar Perbandingan Mazhab(Prof huzaimah tTahido Yanggo)

Tinggalkan Balasan