Mazhab Syi’ah, Zhahiriah, dan Khawarij

Sekilas Tentang Mazhab Syi’ah, Zhahiriah, dan Khawarij

I. Mazhab Syiah
Mazhab syiah pada awalnya bukanlah sebagai mazhab dalam bidang hukum (fikih), tetapi sebagai kelompok pilitik yang berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah nabi wafat adalah Ali bin Abi Thalib, bukan Abu bakar, ‘Umar dan Usman

Golongan syi’ah berpendapat , bahwa pengangkatan kepala pemerintah (khalifah) termasuk rukun Islam, oleh sebab itu wajib hukumnya bagi umat Islam untuk melaksanakannya. Belum sempurna Islam seseorang kalau belum melaksanakan hal itu. Karenanya golongan syiah tidak saja menjadi mazhab politik, tetapi juga mazhab fikih
Dalam prosedur pengangkatan kepala pemerintah (khalifah) dikalangan ulama syi’ah terdapat perbedaan pendapat berikut:
a. Sebagian dari mereka berpendapat, bahwa pengangkatan Khalifah ditunjuk oleh Khalifah sebelumnya, dengan syarat harus keturunan Fathimah putri Rasulullah.
b. sebagian yang lain berpendapat, pahwa pengangkatan khalifah harus melalui musyawarh dan juga harus keturunan Fatimah puti Rasulullah.
dari kedua goongan tersebut, maka golongan tersebut di ikuti oleh Syi’ah Imamiah, sedangkan golongan kedua diikuti oleh zaidiyyah.

Sy’iah Imamiah
Syi’ah Imamiah disebut juga Syi’ah dua belas (الإثنا عشرية) mereka di sebut syi’ah dua belas, karena mereka mempunyai imam nyata (الإمام الظاهر), tidak ada imam lain yang waji diikuti, melainkan hanya Imam yang dua belas itu.
Kedua belas Imam –Imam tersebut adalah: Ali Bin Abi Tha-lib, Hasan Ibn Ali, Husain Ibn Ali, Ali Zain al- Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far al-Sydik, Musa al-Kazhim, Ali al-Ridha, Muhammad al-Jawwad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askariy dan Muhammad al-Mahdi.
Rangkaian imam-imam nyata berhenti pada Muhammad al-Mahdi karena ia tidak meniggalkan keturunan. Muhammad al-Mahdi sewaktu masih kecil hilang didalam gua yang terdapat di masjid Samara (Irak). Menurut keyakinan Mazhab Syi’ah dua belas, bahwa imam Muhammad al- Mahdi ini, menghilang untuk sementara dan akan kembali lagi untuk memimpin umat. Oleh karena itu ia disebut imam bersembunyi (الإمام مستتر) atau imam dinanti (الإمام المنتظر). Selam bersembuyi, ia memimpin umat melalui raja-raja yang memegang kekuasaan dan ulama’-ulma’ mujtahid Syi’ah. Ia akan muncul pada waktu yang telah di tentukan oaleh Allah SWT. Sebelum datang hari kiamat.
Menurut Harun nasution, Syi’ah dua belas menjadi paham resmi di Iran semenjak permulaan abd ke enam belas, yaitu setelah paham itu yaitu setelah paham itu dibawa kesan oleh Syi’ah Ismailiyah. Di samping Syi’ah dua belas ada pula Syi’ah Ismiliah. Imam-imam mereka, Syam-fiqh antara lain adalah: al-Mukhtsharu al-Nafi’ oleh abi Qosim al-Usin al-Huliy, Syar’i al-Islam oleh Ja’far al-Hasan al-Huli, jawahir al-kalam oleh Muhammad al-Najafiy.
Pada mulanya ulam’ Syi’ah Imamiah melakukan ijtihad mengikuti metode Imam Syafi’i dalam menetapkan hukum, tetapi lama kelamaan, mereka menetapkan usul fiqh sediri dan beristibat dengan caranat sediri pula. Mereka berijtihad menggunakan msalahat, bukan dengan Qias.
Diatara bagi hukum-hukum fiqh bagi Mazhab Syi’ah imamiah adalah sebagi berikut adalah:
1. Tidak bole sujud daitas apa yang selain tanah dan tumbuh-tumbuhan (rumput). Jadi tidak sah solat diatas wol, kulit dan lain-lain (menggunakan sajadah waktu sujud)..
2. Istinjak dengan batu khusus pada buang air besar saja, tidak boleh digunakan untuk istinjak dari kencing.
3. Tidak sah mengusap kepala dalam wudhu’ kecuali dengan sisa air yang masih melekat ditangan ketika membasuh kedua belah tangan. Jika orang berwudhu’ membasahi lagi tangannya untuk mengusap kepalanya, maka wudhu’nya tidak sah, meskipun ia telah melap tangannya, ia harus mengulangi wudhu’nya.
4. Laki-laki berzinah dengan seorang perempuan yang masih mempunyai suami, maka haram selama-selamanya baginya untuk menikahinya, meskipun suaminya telah menceraikannya.
5. Mebolehkan nikah mut’ah.
6. Mengharamkan menikah dengan wanita kitabiah.
7. Dan lain-lain.
Syi’ah Zaidiyyah
Syi’ah Zaidiyyah adalah pengikut Zaid ibn Ali Zain al-Abidin ibn Husain ibn Ali bin Abi Thalib dari keturunan fatiman putri Rasulullah SAW. Di sebut Syi’ah Zaidiyyah, karena Zaid inilah pendiri dari mazhab Syi’ah Zaidiyyah tersebut. Zaid mula-mula belajar pada Ayahnya sendiri, setelah ayahnya wafat, ia belajar bersama-sama seperguruan dengan Ja’far al- Shadiq, yaitu perguruan Ahlu al-Bait ( keluarga Rasulullah SAW.) yang pada waktu itu di asuh oleh Muhammad al-Baqir, kemudian pergi ke Basrah belajar dengan washil ibn Atha’ ulama Mu’tazilah dan ulama-ulama lain dari berbagai aliran.
Setelah Zaid kembali ke Madinah, ia bekerja sebagai guru atau ulama tetapi ia selalu di awasi oleh pemerintah yang waktu itu dipegang oleh khalifah dari bani Umayyah, karena dicurigai, ia merasa seakan-seakan dipojokan dan tidak dibebaskan untuk bergerak sebagai seorang guru atau ulama, maka ia meninggalkan Madinah dan pergi ke kufah. Setelah berada di kufah ia mendapat pengikut sebanyak 40 pengikut, akibatnya terjadi perselisihan yang menyebabkan peperangan antara pihak zaid dengan pemerintah yaitu pemerintahan Amawiah dan Zaid mati terbunuh.
Para ulama memang mengagumi keahlian Zaid dalam beberapa cabang ilmu, antara lain dalam bidang ilmu-ilmu al-Qur’an (علوم القران), ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu filsafat, dan lain-lain. Zid termasuk oarang yng disegani dan dihormati, baik dikalangan umum, maupun par ulma’, meskipunpara ulama’ ada perbedaan pendapat dengan zid ini.
Zaid pernah menjadi giru dan imam abu Hanifah selama dua tahun.
Adapun pokok-pokok pikiran Zaid, adalah sebagai berikut:
1. Sanad hadits yang ia utamakan adalah yang berasal dari ahli bait.
2. Zaid berpendapat bahwa khalifah bukan menjadi sutu jabatan yng harus turun temurun, tetapi khalifah yang palinga baik adalah yang diangkat melalui musyawarah dan mengutamakan keturunan fatimag putri Rasulullah kalu ada ataudari ahli bait. Oleh sebab itu, Syi’ah Zidiah berpendapat, bahwa iamam tidaklah ditentukan orangnya oleh nabi, tetapai sifat-sifatnya. Tegasnya nabi dan tidak mengatakan bahwa Ali lah yang akan menjadi iamam sesudah beliau wafat, tetapi hanya menyebutkan sifat-sifat iamam yng akan menggantikan beliau. Ali diangkat menjadi iam, karena sifatsifat itu terdapat dalam dirinya. Diantara sifat- sifat yang dimksud ialah aqwa,ilmu, kemurahan hati da keberanian. Sift-sifat tersebut adalah sifat bagi imam terbaik (الافضال), tetapi bagi oarng yang tidak mencapai ssifat terbaik, boleh juga menjadi iamam. Oleh jkarena itu, Syi’ah Zidiah mengakui kekhalifahan abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka diakui sebagi imam-imam mafdahul oleh Syi’ah Zidiah dan bukan sebagai imam-iamam afdhal. Lain halnya dengan Syi’ah imamiah, mereka berpendapat, bahwa abi Muhammad SAW. Sebelum wafat telah menentukan Ali sebagai penggantinya. Dalam istilah Syi’ah, Ali adalah Washiy (وصي) Nabi Muhammad SAW. Yaitu pengganti yang dilimpahkan oleh Nabi kepadanya sepenuh kepercayaan. Washiy sesudah Ali adalah Hasan, kemudian Husain dan seterusnya kepada cucu-cucu Nabi. Oleh sebab itu Syi’ah Imamiyah tidak mengakui adanya Imam Mafdhul, mereka menganggap tidak sah kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman.
3. Zaid menentang keyakinan tentang munculnya Imam Mahdi pada saat menjelang hari kiamat.
4. Setiap kaum Muslimin diwajibkan untuk beramal ma’ruf dan nahi munkar, oleh sebab itu Zaid berperang melawan pemerintahan Amawiyah,yang akhirnya ia dibunuh.
5. Orang yang berdosa besar, diletakkan antar kufur dan iman, yang disebut fasik.
6. Manusia berkemampuan berihktiar dan bertindak sesuai dengan kemampuannya.
7. Hanya para Rasul/Nabi yang mempunyai mukjizat, sedangkan para Imam tidak.
Adapun fatwa-fatwa atau kumpulan-kumpulan pendapat Zaid, ia tulis dalam kitab yang diberi nama al-majmu yang didalamnya meliputi hadits, tafsir dan fiqh. Isi kitab ini banyak persamaanya dengan fatwa Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal, karena sama-sama bersumber pada al-Qur’an, Hadits dan pendapat para sahabat. Sebagai contoh Syi’ah Zaidiyyah mengharamkan nikah muth’ah sama dengan pendapat Sunny.
Yang mengembangkan Mazhab Syi’ah Zaidiyah adlh Abu Khalid Amar Ibn Khalid al-Wasithy ( wafat tahun 150 H ). Pengembangannya melalui buku-buku yang dikumpulkannya dan lain-lain.
Kitab majmu’ ini terdiri dari dua buku, yaitu al-Majmu’ dalam bidang hadits dan Majmu’ dalam bidang fiqh. Kedua buku ini dikumpulkan oleh abu Khalid Amar Ibn Khalid al-Wasithy dan kedu buku tersebut menjadi pegangan Syia’ah Zaidiyah. Kemudian kitab al-Majmu’ ini di syarah oleh syarf al- Din al-Huain Ibn Ahmad Ibn Husen (Wafat tahun 121 H ). Kitab syarh al-Mjmu’ dinamakan al-Raudhu al-Nadhir Syarkh al- Mjmu’ al Kabir.
Mazhab Syi’ah Ziaidyah berkembang diyaman dan dibagian selatan semennjung arabiyah. Syia’ah Zaidiyah dalam sejarah membentuk kerajaan diyaman dengan Shan’ah sebagai ibu kotanya. Beberapa tahun yang lalu bentuk kerajaan ini dirubah menjadi rapublik, setelah terjadinya refolusi di negar itu.
Sedangkan Mazhab Syi’ah yang lain tidak banyak melibatkan diri dalam membicarkan Mazhab fiqh, kecuali dikenala dalanm kanca politik dan ilmu kalam. Mazhab Syi’ah yang lain itu dala termasuk golongan-golongan kecil, seperti Syi’ah saba’iyah, pengikut Abdullah Ibn Sabah, Syi’ah al-Ghurabiyah, Syi’ah Kisaniah, pengikut al-Mukhtar Ibn Ubaid al- Tsaqafi dan Syi’ah al-Rafidhah.
1. Mazha Zhahiriyah
Mazhab Zhahiriyah adalah suatu mazhab yang menetapkan hukum Islam berdasarkan pada zahir nash saja tidak memberikan ta’wil atau tafsir terhadap nash, baik al-Qur’an maupun Sunnah Rasul. Mereka menafsirkan ayat al-Qur’an atau Hadits dengan menggunakan ayat al-Qur’an atau Hadits yang lain dan tidak menafsirkannya dengan selain itu.
Adapun pendiri dari mazhab Zahiriyah adalah Daud Ibn Ali al-Ashfahaniy yang dilahirkan pada tahun 202 H. Di Kufah dan wafat tahun 270 H. Di Baghdad.
Imam Daud al-Zhairiyah bertempat di Baghdad dan asalnya dari kalangan penduduk Qasyam, yaitu sebuah negeri di Asfahan, tetapi ia dilahirkan di Kufah dan dibesarkan di Baghdad. Ayahnya adalah panitera Qadhi Abdullah ibn Khalid al-Kufiy yang bertugas di Asfahan pada masa al-Makmun Khalifah ketujuh dari Bani Abbas.
Imam Daud al-Zhahiriy diberi kunyah dengan Abu Sulaiman , sedangkan laqabnya adalah al-Zhahiriy,karena ia orang yang pertama sekali menyatakan Zhahiriyah Syari’ah. Ia berpegang dengan pengertian lahir nash-nash al-Qur’an dan al-Sunnah, tanpa menta’wilkan, menganalisa dan menggali dengan Illah atau kuasa hukum. Demikian pula ia tidak berpegang dengan rasio, istihsan, istishab, mashlahah mursalah dan dalil-dalil yang semisalnya. Dia tidak memandang satu pun dari yang demikian itu sebagai dalil hukum. Pemikiran Daud al-Zhahiriy ini didasarkan pada al-Qur’an surah al-Nisa, ayat 59 sebagai berikut:
                   
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Daud al-Zhahiriy semula menganut mazhab Syafi’i, bahkan menjadi salah seorang pengikut mazhab Syafi’i yang terbaik dalam memahami dan mendalami ilmu-ilmu agama ia termasuk salah seorang ulama yang tekun dan rajin, terutama dalam mempelajari hadits Nabi SAW.
Dalam mempelajari hadits Nabi, Daud al-Zhahiriy mempelajariny dengan seorang ulama hadits yang terkenal pada masanya, yaitu Ishaq ibn Rahawaih. Demikian juga ia selalu menerima dan menemui para ulama dalam usahanya mempelajari dan mengumpulkan berbagai hadits.
Setelah Imam Daud al-Zhahiriy memahami dan mendalami berbagai hadits Nabi Muhammad SAW. Ia meninggalkan mazhab yang selama ini dianutnya, yaitu mazhab al-Syafi’i. Dengan demikian, mulai saat itulah ia mulai membangun mazhabnya sendiri.
Adapun alasan Daud al-Zhahiriy meninggalkan mazhab syafi’i antara lain adalah karena mazhab Syafi’i terlalu banyak menggunakan qiyas dan ra’yu dalam menetapkan hukum islam. Sementara Daud al-Zhahiriy ini menggunakan qiyas dan ra’yu hanya apabila tidak dijumpai nashnya dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul, harus dimusyawarahkan dengan para ulama, tidak boleh mendahulukan ijtihad perorangan, karena musyawarah itu lebih baik daripada ijtihad perorangan.
Imam Daud al-Zhahiriy merupakan salah seorang ulama yang terkenal anti taklid, mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dasar-dasarnya. Menurut Daud al-Zhahiriy, bahwa seseorang itu, meskipun ia tidak dapat memahami ajaran Islam sehingga ia tidak dapat mengetahui maksud- maksud ayat al-Qur’an dan hadits, maka sekurang-kurangnya ia dapat mengetahui apakah ibadah yang akan dikerjakannya itu, benar-benar berlandaskan al-Qur’an dan hadits atau tidak.
Imam Daud al-Zhahiriy banyak mengumpulkan pendapat-pendapat dalam tulisan dan selanjutnya dikembangkan oleh murid-muridnya. Mazhab ini tidak dapat berkembang sebagaimana mazhab-mazhab yang lain, perkembangannya hanya melalui murid-muridnya saja dan ini pun tidak meluas. Demikian pula orang-orang yang dikemudian hari hanya mempelajari pendapat mazhab ini melalui buku-buku yang ada saja.
Imam Daud al-Zhahiriy mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang karang-mengarang sebagai buah ilmunya yang banyak. Akan tetapi hasil karangannya itu sudah lama menghilang bersama para penukilnya. Ia tidak meninggalkan kitab yang dicetak ataupun manuskrip.
Di antara kitab fiqh yang pernah ditulis oleh Daud al-Zhahiriy itu dan tidak ada lagi sekarang ini, adalah: kitab Ibthalu al-Taqlid, kitab Ibthalu al-Qiyas, kitab khabar Ahad, kitab Mujibli al-Islami, kitab al-Hujjah dan kitab al-Mufassar wa al-Mujmal.
Adapun murid-murid Imam Daud al-Zhahiriy adalah:
a. Ibrahim ibn Muhammad (244-323 H) yang bergelar Nafthawaih.
b. Zakariah ibn Yahya al-Saljiy (w. 307 H).
c. Abbas ibn Ahmad ibn al-Fadhl al-Quraisyiy.
d. Abdullah ibn Muflis (w. 324 H).
e. Muhammad ibn Daud al-Zhahiriy (255-297 H).
f. Muhammad ibn Ishaq al-Qasyaniy.
g. Yusuf ibn Yaqub ibn Mahran.
Sedangkan para pendukung dan pengembang mazhab Zhahiriy setelah Daud al-Zhahiriy meninggal dunia adalah:
a. Ahmad ibn Muhammad al-Qadhiy al-Manshuriy.
b. Abdullah ibn Ali al-Husain ibn Muhammad al-Nakhaiy al-Daudiy.
c. Abd. Aziz Ahmad al-Jaziriy al-Asfahaniy.
d. Ibn al-Kholal yang terkenal dengan sebutan Abu Thayyib.
e. Ali Ibn Hazmin al-Zahiriy (384-456 H). Dialah yang banyak mengembangkan mazhab al-Zhahiriy.
Ibn Hazmin adalah keturunan persi, kakeknya bernama Maula Yazid ibn Abi Sofyan termasuk keturunan dan keluarga Amawiyah. Oleh karena itu pengaruh keluarga Amawiyah ini sangat besar terhadap diri Abu Muhammad Ali ibn Hazmin. Ia mula-mula memusatkan perhatiannya terhadap ilmu hadits dan hadits, sastra Arab, sejarah dan filsafat, kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada bidang fiqh. Fiqh yang mula-mula dipelajarinya, adalah fiqh mazhab Maliki yang menjadi mazhab rakyat Spanyol (Andalusia). Setelah itu ia mempelajari fiqh mazhab Syafi’i dan pada akhirnya mendalami mazhab Daud al-Zhahiriy.
Meskipun Ibn Hazmin mempelajari dan mengikuti mazhab Zhahiriy, tetapi tidak berarti bahwa semuanya ia ikuti, melankan yang selaras dengan jalan pikiranya sajalah yang ia ikuti.
Namun bagaimanapun ia berjasa dalam mengembangkan mazhab ini ke beberapa negeri, terutama melalui tulisan atau bukunya.
Buku-buku yang terkenal dari kalangan ibn Hazmin antara lain ialah:
a. Kitab Ushul al-Ahkam li Ushul al-Ahkam dalam bidang Ushul fiqh.
b. Al-Muhalla, dalam bidang Fiqh yang terdiri dari beberapa jilid.
Contoh-contoh fiqh Zhahiriy antara lain adalah:
1. Tidak sah talak kecuali kepada tiga lafaz, yaitu:
الطلاق-التسريح-الفرق
Jika sudah diniatkan oleh suami untuk menceraikan istrinya dengan tiga lafaz tersebut, maka talaknya sah.
2. Dalam menjatuhkan talak tidak boleh diwakili, tidak sah kalau hanya dilakukan oleh wakil.
3. Asal hukum nikah adalah wajib, berdasarkan ayat al-Qur’an
       
Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi. (Q.S al-Nisa: 3).
4. Mempersaksikan jual beli, talak dan ruju hukumnya wajib, tidak sah talak dan ruju tanpa dua orang saksi yang adil.
5. Barang siapa tidak berniat menjatuhkan talak akan tetapi karena salah bicara,jika ada bukti yang menunjukan bahwa orang itu hendaklah menjatuhkan talak kepada istrinya, maka dihukumkah sebagai talak, akan tetapi jika tidak ada bukti yang menunjukan hal itu, maka tidak dianggap sebagai talak.
6. Istri yang kaya, wajib memberi nafkah kepada suaminya yang dalam keadaan susah atau sulit mendapatkan biaya hidup, berdasarkan al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 228, sebagai berikut:
      
dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya
Selain dari ayat tersebut, juga berdasarkan ayat-ayat surah al-Maidah, sebagai berikut:
     
Dan tolong-menolongalah kamu dalam mengerjakan kebajikan.
Ayat tersebut memerintahkan agar tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan. Menolong dan membantu suami dalam keadaan susah dan sulit mendapatkan biyaya hidup, adalah termasuk tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan.
Selain berdasarkan kepada dua ayat di atas, mazhab Zhahiriy juga beralasan, bahwa karena istri berhak mendapat warisan dari suaminya, maka baginya juga berkewajiban memberi nafkah kepada suaminya berdasarkan nash al-Qur’an tadi.
3 mazahab khawarij
Mazahab khawarij pada mulanya hanya sebagai paratai politik .kaum khawarij adalah para pengikut Ali ibn Thalib yang meninggalkan barisannya, karena tidak setuju dengan sikap –nya menerima arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan per –sengketaan tentang khlifah dengan mu’awiyah ibn Abi sufyan .mereka di sebut kahwarij,karena mereka keluar dari barisan Ali.
Menurut Harun Nasution, kaum Khawarij menyebut diri mereka Syurah, yang berasal dari kata yasyriy (يسري) yang artinya menjual, sebagaimana disebutkan dalam ayat 207 dari surah al-Baqarah:
 ••           
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
Maksudnya, mereka adalah orang yang sedia mengorbankan diri untuk Allah. Namun lain yang diberikan kepada mereka ialah Hurairah dari kata Harurah , suatu desa yang terletak didekat kota kufah di Irak. Di tempat inilah mereka, yang pada waktu itu berjumlah dua belas ribu orang, berkumpul setelah memisahkan diri dari Ali. Di sini mereka memilih Abdullah ibn Wahab al-Rasyidi menjadi Imam mereka sebagai ganti dari Ali ibn Abi Thalib. Dalam pertempuran dengan kekuatan Ali, mereka mengalami kekalahan besar, tetapi akhirnya seseorang khawarij bernama Abd. Rahman ibn Muljam dapat membunuh Ali.
Selanjutnya menurut Harun Nasution,sungguhpun kaum khwarij telah mengalami kekalahan, mereka menyusun barisan kembali dan meneruskan perlawanan tehadap kekuasaan Islam resmi, baik di zaman Dinasti Bani Umayyah, Maupun di zaman Dinasti Bani Abbas. Pemegang-pemegang kekuasaan yang ada pada waktu itu mereka anggap telah nenyeleweng dari Islam dan oleh karena itu mesti ditentang dan dijatuhkan.
Dalam lapangan ketatanegaraan, kaum khawarij mempunyai paham lebih demokratis dari yang lainnya pada waktu itu, karena menurut kaum khawarij ini, khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam, yang berhak menjadi khalifah bukanlah anggota suku bangsa Quraisy saja, bahkan bukan hanya orang Arab, tetapi siapa saja yang sanggup, asal orang islam, sekalipun ia hamba sahaya yang berasal dari Afrika. Khlifah yang terpilih selama itu berlaku adil dan menjalankan Syari’at Islam ia akan memegang terus jabatannya, tetapi kalau ia menyeleweng dari ajaran-ajaran islam, ia wajib dipecat atau dibunuh. Bertalian dengan masalah ini, menurut pandangan politik mereka, bahwa pengangkatan khalifah Abu Bakar, Umar ibn Khathab secara keseluruhan dapat mereka terima karena keduanya tidak menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam. Tetapi usman ibn Affan mereka anggap telah menyeleweng mulai dari tahun ketujuh dari masa khalifahnya. Begitu pula Ali ibn Abi Thalib, mereka memandang telah menyeleweng sesudah peristiwa arbitrase tersebut di atas. Sejak itulah Usman dan Ali, menurut anggapan mereka telah menjadi kafir, demikan pula halnya dengan Mua’wiyah, Amr ibn al-Ash dan Abu Musa al-Asy’ariy serta semua orang mereka anggap telah melanggar ajaran-ajaran Islam.
Al-Syahrastaniy mengatakan, bahwa kaum khwarij terpecah menjadi delapan belas golongan dan menurut al-Baghdadiy terpecah menjadi dua puluh golongan, bahkan menurut AL-Asyariy jumlah golongan itu lebih besar lagi jumlahnya.
Menurut Harun Nasution, kaum khwarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Hidup dipadang pasir yang serba tandus membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tapi keras hati dan berani serta bersikap merdeka, tidak bergantung pada orang lain. Perubahan agama tidak membawa perubahan dalam sifat-sifat ke Badawian mereka. Mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan tidak gentar mati. Sebagi orang Badawi, mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran-ajaran Islam, sebagiamana terdapat dalam Al-Qur’an dan al-Hadits, mereka artikan menurut lafaznya dan harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang yang sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatik. Iman yang tebal, tanpa sempit, ditambah lagi dengan sikap fanatik ini membuat mereka tidak bisa mentilirir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka, walaupun hanya penyimpangan dalam bentuk kecil.
Itulah sebabnya kaum khawarij mudah terpecah belah menjadi banyak golongan, dan terus terpecah lagi menjadi golongan-golongan kecil, disamping sikap mereka yang terus menerus melawan penguasa-penguasa Islam dan umat Islam yang ada pada zaman mereka.
Di antara golongan-golongan khwarij yang paling masyhur adalah:
a. Al-Muhakkimah
Al-Muhakkimah adalah golongan khawarij asli yang terdiri dari pengikut-pengikut Ali. Menurut golongan ini, Ali Mu’awiyah, kedua pengantara Amr ibn al-Ash dan Abu Musa al-Asy’ariy dan semua orang yang menyetujui arbitrase bersalah dan menjadi kafir. Kemudian hukum kafir ini mereka perluas maknanya, sehingga termasuk kedalamnya setiap orang yang berbuat dosa besar, misalnya berbuat zinah yang menurut pandangan mereka sebagai salah satu dosa besar dan pelakunya di anggap menjadi kafir dan keluar dari agama Islam. Demikian seterusnya dengan perbuatan-perbuatan dosa yang lainnya.
b. Al-Azariqah
Golongan ini adalah pengikut Nafi ibn al-Azraq. Dari namanya inilah dinisbahkan kepada golongan pengikutnya yang disebut Al-Azariqah. Nafi ibn Al-Azariqah adalah salah seorang fuqaha yang terbesar dikalangan Al-Azariqah.
Wilayah kekuasaan mereka terletak diperbatasan Irak dengan Iran. Menurut al-Baghdadiy pengikutnya berjumlah lebih dari 20 ribu orang. Khalifah pertama yang mereka pilih ialah Nafi dan diberi gelar Amir al-Mu’minin. Nafi tewas dalam pertempuran di Irak tahun686 M. Golongan Al-Azariqah lebih radikal dar al-Muhakkimah. Mereka tidak lagi menganggap orang-orang yang berbuat dosa itu sebagai orang kafir, tetapi sebagai orang Musyrik. Sedangkan menurut ajaran Islam, bahwa lebih besar dosa syirik dari dosa kafir.
Orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka, atau sepaham tetapi tidak mau berhijrah kedalam kekuasaan mereka, dipandang musyrik. Yang mereka pandang musyrik bukan hanya kepada orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak dari orang-orang yang mereka pandang sebagai musyrik. Siapa saja orang mereka jumpai dan mengaku orang Islam yang tidak termasuk golongan Al-Azariqah mereka bunuh.
c. Al-Najdah
Golongan Najdah adalah pengikut dari Najdah ibn Amir al-Hanafiy. Golongan Najdah ini berbeda dengan golongan al-Muhakkimah dan Al-Azariqah. Mereka berpendapat bahwa orang islam yang tidak sepaham dengan mereka saja kalau berdosa besar di anggap kafir dan kekal dalam neraka, tetapi kalau orang islam dari golongan mereka yang berbuat dosa besar meskipun mendapat siksaan, akan masuk surga dan tidak masuk neraka. Dosa kecil menurut mereka akan menjadi dosa besar kalau dikerjakan terus- menerus dan yang mengerjakannya menjadi musyrik.
Dalam lapangan politik, Najdah berpendapat, bahwa perlu adanya Imam jika hanya maslahat menghendaki demikian.
Golongan Najdah inilah yang pertama-tama membawa paham taqiyah. Taqiyah ialah merahasiakan dan tidak menyatakan keyakinan untuk keamanan diri seseorang. Taqiyah menurut mereka terdiri dari ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu seseorang boleh mengucapkan kata-kata dan boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin menunjukan, bahwa pada lahirnya ia bukan orang Islam, tetapi pada hakekatnya ia tetap menganut agama Islam.
Menurut Harun Nasution, tidak semua pengikut Najdah setuju dengan pendapat dan ajaran-ajaran di atas terutama paham bahwa dosa besar tidak membuat pengikutnya menjadi kafir dan bahwa dosa kecil bisa menjad dosa besar.perpecahan dikalangan mereka kelihatannya ditimbulkan oleh pembagian ghanimah(barang rampasan perang) dan sikap lunak yang diambil Najdah terhadap khalifah Abd Malik ibn Marwan dari Dinasti Umayyah. Dalam salah satu serangan yang dipimpin oleh anak Najdah sendiri, mereka memperoleh harta dan tawanan. Tetapi sebelum dikeluarkan seperlima daripadanya, sebagai diwajibkan dalam syari’at dan sebelum mereka kembali kepangkalan, harta dan tawanan itu telah dibagi oleh yang turut dalam serangan tersebut di antara mereka sendiri. Selanjutnya dalam serangan terhadap kota madinah, maka dapat menawan seorang anak perempuan yang diminta kembali oleh Abd Malik. Permintaan ini dikabulkan oleh Najdah yang tidak disetujui pengikutnya, karena Abd Malik adalah musuh mereka.Dalam pecahan ini, Abu Fudaik, Rasyid, al-Thawil dan Athiah al-Hanafiy memisahkan diri dari Najdah, Athiah mengasingkan diri ke Sajistan di Iran, sedangka Abu Fudaik dan Rasyid mengadakan perlawanan terhadap Najdah. Akhirnya Najdah dapat mereka tangkap dan dipenggal lihirnya.
d. Al-Shufriyah
Golongan al-Shufriyah adalah pengikut dari Ziyad ibn al-Ashfar, paham mereka tidak banyak berbeda dengan golongan Al-Azariqah. Mereka adalah orang Arab Badawi dan paling kuat berpegang kepada prinsip. Diantara ciri-ciri khas mereka adalah ketat dan kuat dalam ibadah, ikhlas terhadap aqidah mereka, sangat berani, ahli dalam sastra puisi dan prosa karena kearabannya yang asli.
Di antara ajaran-ajaran al-Shufriyah adalah:
1. Orang Shufriyah yang tidak berhijrah, tidak dipandang kafir
2. Mereka tidak berpendapat bahwa anak-anak kaum musyrikin boleh dibunuh.
3. Tidak semua mereka berpendapat, bahwa orang yang berbuat dosa besar menjadi musyrik. Ada di antara mereka yang membagi dosa besar kedalam dua katagori, yaitu dosa yang ada sangsinya didunia seperti membunuh dan berzinah, sedangkan yang lainnya adalah dosa yang tidak ada sangsinya didunia, seperti meninggalkan shalat dan puasa. Orang yang melakukan dosa dalam katagori pertama tidak dipandang kafir dan yang menjadi kafir hanyalah orang yang melaksanakan dosa dalam katagori kedua.
4. Daerah golongan Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukan dar harb(kawasan perang,) yang diperangi hanyalah mu’askar atau camp pemerintah, sedang anak-anak dan perempuan tidak boleh dijadikan tawanan.
5. Kufur dibagi dua yaitu: kufur karena mengingkari rahmat Tuhan dan kufur karena mengingkari Tuhan. Dengan demikian trem kafir tidak selamanya harus berari keluar dari Islam.
Selain pendapat-pendapat di atas bagi golongan al-Shufriyah terdapat pendapat pendapat yang spesifik bagi mereka yaitu:
1. Taqiah hanya boleh dalam bentuk perkataan
2. Untuk keamanan diri perempuan ia boleh kawin dengan laki-laki kafir didaera bukan Islam.
e. Al- Ibadhiyah
Golongan al- Ibadhiyah adalah pengikut Abdullah bin Ibadh al-Tamimiy. Golongan ini merupakan golongan yang paling moderat dari seluruh golongan khawarij. Paham moderat mereka dapat dilihat dari ajaran-ajaran sebagai berikut:
1. Orang Islam tidak sepaham dengan mereka adalah kafir. Dengan orang islam demikian boleh diadakan hubungan perkawinan dan warisan. Syahadat mereka dapat diterima dan membunuh mereka adalah haram.
2. Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka, kecuali camp pemerintah merupakan dar tauhid (daerah orang yang mengesahkan tuhan) dan tidak bole diperangi, hanya mu’askar pemerintah.
3. Orang Islam yang berbuat dosa besar adalah muwahhid, tetapi bukan Mu’min dan bukan kafir agama. Jadi kalau mengerjakan dosa besar, tidak membuat orang keluar dari agama Islam.
4. Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah kuda dan senjata. Emas dan perak harus dikembalikan kepada pemiliknya.
Golongan khwarij selain Ibadhiyah telah hilang dan hanya tinggal dalam sejarah. Golongai ibadhiyah ini masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zanibar, Afrika utara, Oman dan Arabia Selatan.
Golongan-golongan khawarij ekstrim dan radikal, sungguhpun mereka sebagai golongan telah hilang dalam searah, tetapi ajaran- ajaran akstrim mereka masih mempunyai pengaruh, walaupun tidak banyak dalam masyarakat Islam sekarang.
Contoh fiqh al-khawarij:
1. Thaharah/suci badan untuk melakukan shalat menurut pendapat mereka, bahwa thaharah yang dimaksud adalah thaharah dari lidah dalam berbohong dan berbicara serta berbuat bathil yang dapat menyeret orang lain kepada bahaya. Oleh sebab itu mereka menjadikah hal-hal yang mebathalkan wudhu’ adalah memfitnah, bermusuhan, benci sesama manusia dan berkata yang keji.
2. Di antara golongan-golongan khawarij ada yang berlebihan dalam menetapkan hukum dari sumber-sumbernya. Mereka menganggap hanya al-Qur’an sebagai sumber hukum yang hakiki dan tidak mengakui selai al-Qur’an itu sebagai sumber hukum. Mereka menentang sebagian hukum yang ditetapkan berdasarkan ijma dari golongan yang tidak sepaham dengan mereka, dengan alasan bahwa al-Qur’an membatalkannya.
3. Orang yang berzina muhshan hukumnya dijilid (dicambuk), bukan dirajam, karena hukuman budak yang berzina adalah sepro hukuman yang dijatuhkan kepada orang merdeka. Sementara rajam itu adalah menghilangkan nyawa dan tidak bisa dibagi dua dalam hukuman ini.
4. Mereka berpendapat bahwa ayah-ibu dapat menerima wasiat dalam keadaan apapun tidak bisa mahjub, karena hadits yang berbunyi:
لا وصية لوارث رواه ( الدار قطن عن جابر ابن عبد الله)
Tidak ada wasiat bagi ahli waris
Hadits tersebut bertentangan dengan kitabullah al-Qur’an yaitu ayat 180 Surah al-Baqarah sebagai berikut:
        •         
diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf[112], (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

5. Boleh menikahi seorang wanita bersama-sama dengan bibinya dalam satu waktu, walaupun belum bercerai dengannya, karena tidak disebutkan dalam al-Qur’an. Disebutkan dalam surat al-Nisa ayat 23, bahwa yang diharamkan dinikahi hanyalah ibu kandung, ibu tiri, ibu susu, anak kandung, anak menantu, anak susu, saudara sekandung, atau saudara seayah saja atau seibu sahja,saudara sepersusuan dan seterusnya, tetapi tidak disebutkan tidak boleh menikahi sekaligus antara seorang perempuan dengan bibinya.
Kitab-kitab fiqh dalam Mazhab Khawarij antara lain:
1. Kitab al-Nil oleh al-Syaikh Dhiya al-Din Abd Aziz al-Tamimiy (wafat 1223 H.)
2. Kitab Syarh al-Nil wa Syifa al-Alil Oleh al-Imam Muhammad Ibn Yusuf

Tinggalkan Balasan