Wudhu’ Menurut Empat Mazhab

Pengertian Wudhu’

Para fuqaha sependapat mengatakan, bahwa Wudhu’ adalah menyampaikan air keanggota tertentu dengan cara cara tertentu”,namun mereka berbeda pendapat tentang rukun Wudhu’.

Kewajiban berWudhu’ ditetapkan berdasarkan firman Allah swt.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Ma’idah: 6)
Dalam hadits Nabi saw.juga menjelaskan tentang keharusan berWudhu’, yang menyatakan:, “Allah tidak akan menerima shalat salah seorang di antaramu jika berhadats sehingga ia berWudhu’.” (As Syaikhani)
Fardu Wudhu’

Ulama sepakat bahwa keempat hal yang sudah disebutkan dalam ayat diatas ( membasuh muka, membasuh kedua tangan, mengusap kepala/rambut, dan membasuh kedua kaki ) adalah termasuk rukun Wudhu’’ , walaupun dalam keemapt hal tersebut terdapat perbedaan pendapat diantara mereka dalam beberapa hal , yaitu:
1. Membasuh muka, para ulama membatasinya mulai dari batas tumbuh rambut sampai bawah dagu, dari telinga ke telinga
2. Membasuh kedua tangan sampai ke siku; yaitu pergelangan lengan
3. Mengusap kepala keseluruhannya menurut Imam Malik dan Ahmad, sebagiannya menurut Imam Abu Hanifah dan Asy Syafi’iy
4. Membasuh kedua kaki sampai ke mata kaki, sesuai dengan sabda Nabi kepada orang yang hanya mengusap kakinya: “Celaka, bagi kaki yang tidak dibasuh, ia diancam neraka”. Muttafaq alaih
Namun secara keseluruhan rukun wudhu’ tersebut para ulama berbeda pendapat. Ada yang menyebutkan 4 saja sebagaimana yang tercantum dalam ayat Quran, namun ada juga yang menambahinya dengan berdasarkan dalil dari Sunnah.

• Menurut Hanafi mengatakan bahwa rukun wudhu itu hanya empat, yaitu (membasuh muka, membasuh kedua tangan, mengusap kepala/rambut, dan membasuh kedua kaki ) sebagaimana yang disebutkan dalam nash Quran dalam surat al-Maidah ayat 6
• Menurut Maliki rukun wudhu ada 7, dengan menambahkan niat, tadlik, yaitu menggosok anggota wudhu`. Sebab menurut beliau sekedar mengguyur anggota wudhu` dengan air belum bisa dikatakan mencuci atau membasuh, dan muwalat, disamping empat rukun yang sudah dijelaskan dalam surat al-Maidah diatas.
• Sementara as-Syafi`i menambahkan niat dan tertib, yaitu kewajiban untuk melakukan wudhu’ secara berurut, tidak boleh terbolak balik. Istilah yang beliau gunakan adalah harus tertib
• Menurut Hanbali mengatakan bahwa rukun wudhu’ ada 7, harus niat, tertib dan muwalat, yaitu berkesinambungan. Maka tidak boleh terjadi jeda antara membasuh atau menyapu satu anggota dengan anggota yang lainnya.
Adapun perbedaan pendapat dalam hal niat, dimana menurut Imam Syafi’i, Malik, dan Ahmad niat termasuk rukun wudhu’ berdasarkan sabda Nabi saw., “Sesungguhnya semua amal itu tergantung niat.” (Muttafaq alaih). Urgensi niat adalah untuk membedakan antara ibadah dari kebiasaan. Namun, tidak disyaratkan melafalkan niat karena niat itu berada di dalam hati.
Dalam hal tertib ( berurutan secara teratur dari awal sampai akhir). Dimulai dari niat, membasuh muka, tangan, mengusap kepala, lalu membasuh kaki. Karena melihat sususan kalimat yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 6 tersebut menfaedahkan tertib, dismaping melihat cara wudhu’nya Rasulullah yang berurut sesuai urutan yang ada dalam ayat tersebut. Namun menurut Abu Hanifah dan Malikiyah, melakukan wudhu’ dengan tertib hukumnya sunnah, bukan harus(rukun).

Secara keseluruhan bisa kita lihat perbedaan tersebut berdasar rincian dibawah ini:

Yang termasuk rukun wudhu’ menurut empat mazhab
1 Mazhab Hanafi: membasuh wajah, membasuh tangan, mengusap kepala, membasuh kaki (ada empat rukun)
2 Mazhab Maliki :Niat, membasuh wajah, membasuh tangan, menyapu seluruh kepala, membasuh kaki, tertib, muwalat dan tadlik (ada 8 rukun)
3 Mazhab Syafi`i: Niat, membasuh wajah,membasuh tangan, mengusap kepala, membasuh kaki, dan tertib( ada 6 rukun wudhu’)
4 Mazhab Hanbali:Niat, membasuh wajah, membasuh tangan, menyapu sebagian kepala, membasuh kaki, tertib, dan muwalat
( ada 6 rukun wudhu’)

Penjelasan tentang rukun wudhu’

1. Niat
Niat wudhu` adalah ketetapan di dalam hati seseorang untuk melakukan serangkaian ritual yang bernama wudhu.

2. Membasuh Wajah
Para ulama menetapkan bahwa batasan wajah seseorang itu adalah tempat tumbuhnya rambut (manabit asy-sya`ri) hingga dagu, dan dari batas telinga kanan hingga batas telinga kiri.

3. Membasuh kedua tangan hingga siku
Secara jelas disebutkan tentang keharusan membasuh tangan hingga ke siku. Dan para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bahwa siku harus ikut dibasahi

4. Mengusap kepala
Yang dimaksud dengan mengusap adalah meraba atau menyapukan tangan kebagian yang diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air.
• Al-Hanafiyah mengatakan bahwa yang wajib untuk diusap tidak semua bagian kepala, cukup dengan menyapu seperempat kepala atau dalam batas ubun ubun, atau sekurang kurangnya tiga jari. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga.
• Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa yang wajib diusap pada bagian kepala adalah seluruh bagian kepala.
• Asy-Syafi`iyyah mengatakan bahwa bagian kepala yang wajib diusap dengan air tidak tertentu, hanya cukup sekedar menyapu, dalil yang digunakan beliau adalah hadits Al-Mughirah : Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala).(penjelasan tentang dasar hukum sebab perbedaan pendapat ini akan dijelaskan kemudian)

5. Mencuci kaki hingga mata kaki.
Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan hingga mata kaki adalah membasahi mata kakinya itu juga.

6. Tertib
Yang dimaksud dengan tartib adalah mensucikan anggota wudhu secara berurutan dari yang awal hingga yang akhir.
• Imam Abu Hanifah dan imam Malik, tidak merupakan bagian dari fardhu wudhu`, melainkan hanya sunnah muakkadah. mengenai urutan yang disebutan di dalam Al-Quran, menurut mereka tidaklah mengisyaratkan kewajiban tertip.
• Imam Syafi’i dan imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa tertib urutan anggota yang dibasuh merupakan bagian dari rukun wudhu`. Sebab demikianlah selalu datangnya perintah dan contoh praktek wudhu`nya Rasulullah SAW.
7. Muwalat / Tidak Terputus
Maksudnya adalah tidak adanya jeda yang lama ketika berpindah dari membasuh satu anggota wudhu` ke anggota wudhu` lainnya dengan tidak diselingi oleh perbuatan perbuatanlain yang dianggab memisahkan satu rukun dengan rukun yang lannya menurut kebiasaan. Muwalat termasuk rukun wudhu’ menurut mazhab Maliki dan Hanbali.

8. Tadlik
Yang dimaksud dengan tadlikadalah mengosokkan tangan pada anggota wudhu serta meratakan air, bai ketika membasuh ataupun sesudahnya sebelum kering. Hal ini tidak menjadi kewajiban menurut jumhur ulama, namun khusus Al-Malikiyah mewajibkannya. Sebab sekedar menguyurkan air ke atas anggota tubuh tidak bisa dikatakan membasuh seperti yang dimaksud dalam Al-Quran.

Hal Hal yang Membatalkan Wudhu’ (baca penjelasannya disini)

ditulis oleh : Ilda Hayati, Lc., MA (dosen syariah STAIN Curup)

Tinggalkan Balasan